Seluruh Mahasiswa FIS UM wajib memperbarui nomor HP yang aktif dan NIK (Nomor Induk Kependudukan) pada profil SIAKAD dan memeriksa kebenaran data pada http://forlap.ristekdikti.go.id/ DEMI MASA DEPAN ANDA

DANGDUTNYA RHOMA IRAMA

| Oktober 20, 2011 | 0 Comments

DANGDUTNYA RHOMA IRAMA:  

Kemempelaian Musik (Melayu-Rock) dan Dakwah

 Sulaiman Harahap[1]

Abstract

The author will explain
the history of dangdut music and teach his religion (dakwah) by Rhoma Irama with
Soneta Group. This paper will focus on the change, development and
hybridization of Malaya music to be Dangdut dynamic (Rock) by Rhoma Irama.
Rhoma Irama with dangdut music can survive and succeeds in the music industry
and to be the most popular music in Indonesia. Dakwah in Dangdut Rhoma Irama write
in the lyrics of the song is argumentative, communicative, and inspire people. Success
in the music industry also affects Dangdut films and political campaigns are
conducted Rhoma Irama. This paper also describe about various reactions and the
influence of dangdut music.

Key Words:
Music, Dangdut, Rhoma Irama, and Soneta

 

Rhoma Irama[2], seniman dan pedakwah yang konsekuen karena telah
40 tahun silam, sejak Soneta[3] berdiri pada 11 Desember 1970,
sosok bersuara merdu dan gemar bersilat ini terus berlagu dangdut. Lagu dangdut
Rhoma Irama khas, terutama dari segi lirik dan musikalitasnya. Liriknya khas
karena bermuatan dakwah. Dangdutnya khas karena berdinamika rock.

Sedari awal, idealisme berdangdut Rhoma Irama
bersama Soneta bukan semata untuk hiburan, tetapi sebagai alat penyampai pesan-pesan
moral, kritik sosial, dan nilai-nilai agama (Islam). Konsepsi Rhoma Irama dalam
bermusik dakwah bermomentum pada 13 Oktober 1973. Kala itu, Rhoma Irama bersama
tujuh anggota[4]
Soneta berikrar bahwa musik mereka berasaskan amar makruf nahi munkar
(mengajak kebaikan, menjauhi keburukan). Hal ini sejalan dengan jargon Soneta hingga
kini, The Voice of Moslem.

Tanda terkini dari kedisiplinan bermusik Rhoma Irama tercatat pada Senin, 26 Juli 2010 lalu. Di
salah satu studio Megablitz, Grand Mal Indonesia, Rhoma Irama meluncurkan album
baru Soneta bertajuk Azza. Sejatinya, album ini hanya terdapat satu lagu
baru, yakni Azza. Selebihnya adalah lagu-lagu lama didaur-ulang, seperti
lagu Kehilangan, Keramat, Rana Duka, Tabir, Kepalsuan, Sebujur Bangkai, 1001
Macam, Patah Hat
i serta satu lagu Gala-Gala yang merupakan versi
bahasa Indonesia dan aransemen Rhoma Irama dari lagu India, Jana-Jana. Kata
Azza adalah potongan kata Azzawajallah yang berarti memuliakan
Tuhan

 Lirik Berpetuah

Tema dakwah spiritualistik memang kerap disuntikkan
Rhoma Irama dalam menggarap lagu dangdutnya, antara lain, lagu Laillahaillallah
yang bermuatan kesaksian keesaan Tuhan, dalam album musik untuk film Raja
Dangdut
(1978) dan album khusus bertajuk Haji (1983). Kemudian, lagu
Setete Air Hina dalam album Renungan dalam Nada (1983) yang
mengutip surat Ath-Thariq ayat 5 – 7, yang mengajak menjauhi sikap sombong
karena manusia berasal dari proses biologis yang ’hina’. kemudian, lagu Lima,
memuat petuah dari hadits Nabi Muhammad SAW mengenai peringatan menjaga
lima hal baik dalam hidup sebelum lima yang buruk datang, dalam album musik
untuk film Cinta Segitiga (1979).

Tak hanya tema spritualistik Rhoma Irama berdakwah,
hal-ihwal lain pun juga digarapnya, diantaranya, lagu yang mengulas persoalan
perilaku negatif masyarakat, seperti kebiasaan begadang, berjudi, mabuk-mabukan,
menggunakan narkoba, dan lainnya. Selain itu, ada pula tema seputar demokrasi,
integralistik, kesenjangan sosial, perubahan zaman, kepemudaan, citra wanita,
dan percintaan pun digunakan dalam menyusun lirik lagu dangdutnya.

Lain dari itu, dari sekian jubel
pertunjukan dangdut Rhoma Irama bersama Soneta, mayoritasnya pertunjukan
tersebut bermuatan tema atau misi dakwah tertentu. Diantaranya adalah tema
pemantapan keimanan umat, penguatan ukhuwah islamiyah dan kebangsaan,
penggalangan dana dari/untuk umat Muslim, kesetiakawanan sosial, penyuluhan-penyuluhan
tertentu (semisal, kampanye antinarkotika, penyuluhan dan penyadaran kenakalan
remaja serta bahaya pergaulan bebas), dan lainnya.

 

Avantgarde Musik Melayu

Dangdut Rhoma Irama bukan musik musiman.
Dangdutnya sejalan dengan perubahan dan mempengaruhi zaman. Terbukti dengan
musikalitasnya yang terus bermutakhir dan liriknya yang kritis dan berpesan
moral. Kata lainnya, dangdut Rhoma Irama bersemangat pembaruan. Laiknya Islam,
yang selalu menuntut pembaruan demi menjawab problema zaman.

Proses pembaruan musik Melayu konvensional
dilakukan Rhoma Irama secara bertahap. Mulai dari penggantian alat-alat musik
konvensional musik Melayu (lama) dengan alat-alat musik elektrik. Menggunakan
bentuk panggung yang lebih megah dengan tata lampu berkekuatan ratusan ribu watt,
sistem suara berkekuatan puluhan ribu watt, hingga penggunaan asap
panggung. Sedangkan dari segi penampilan, tata busana yang dikenakan mewah
namun sopan dan cenderung mahal serta dihiasi penampilan di atas panggung
secara teatrikal atau serempak saat bernyanyi. Hal ini tidak lain adalah
pengutipan ciri-ciri berpanggung pada musik dan musisi rock.

Perjalanan dangdut Rhoma Irama bersama Soneta yang
mengusung musik dakwah bukanlah sepak terjang musiman belaka. Terhitung sejak
pertama kali sukses di blantika musik dengan album Begadang, Penasaran
(1974-1975), Rupiah, Darah Muda (1975) Musik, 135.000.000
(1976), dan puluhan album lainnya (mulai dari album utuh, soundtrack
film, singel, kompilasi, hingga aransemen ulang), Rhoma Irama bersama
Soneta dari waktu ke waktu terus memassa. Bahkan menjadi ikon budaya pop atau
budaya massa di Indonesia.

Ditambah lagi, Rhoma Irama bersama Soneta juga
merambahi dunia film dengan sederet film-film musikal dangdut yang laris dan
diperanutamakan olehnya serta diilustrasikan musik Soneta. Film musikal dangdut
yang dimainkan Rhoma Irama mencapai 24 judul[5]. Kini, yang terbaru adalah
”Dawai 2 Asmara” yang beredar sejak September 2010 lalu. Dan, yang akan tayang
pada musim libur Lebaran 2011 nanti dengan judul Sajadah Ka’bah. Kemudian, dangdut
dan dakwah Rhoma Irama pun juga bergelut di panggung politik. Persebaran musik
dan penampilan Rhoma Irama merambah pula ke luar negeri, mulai dari Singapura,
Brunei, Malaysia, Jepang, India, hingga Barat seperti Amerika Serikat dan
Eropa.

Proyek pembaruan dalam musik dan materi lirik dangdut
Rhoma Irama dimulai sejak paruh pertama 1970-an. Pembaruan tersebut terjadi pada
jati musik Melayu. Peremajaan musik Melayu dilakukannya pada situasi dan
kondisi dalam negeri tengah berubah, dari Orde Lama yang radikal-kiri dan
kontra Barat menjadi Orde Baru pragmatis-kanan yang pro Barat. Peta politik ini
berdampak domino masuknya unsur-unsur budaya populer Barat ke Indonesia, khususnya
musik rock.

Implikasi negatif dari lancarnya budaya Barat yang
ditelan mentah-mentah kawula muda, terutama di kota-kota besar di Indonesia,
menjadikan mereka gemar hura-hura, bermabuk-mabukan, menggunakan narkotika,
pergaulan bebas, dan lainnya. Ingin bergaya Hippies, namun menanggalkan akarnya.
Sedangkan pada masyarakat Dangdut terjadi degradasi estetis dan pemiskinan daya
lirik berupa gejala erotisme dalam gerak di atas panggung dan vulgarisasi bahasa
lirik yang melulu cinta dan mengisyaratkan ’aktualisasi’ cinta.

Pada era sebelumnya, 1950-an hingga 1960-an, dangdut
yang masih disebut musik Melayu, dikenal dengan lirik yang sopan dan bermuatan ajaran
Islam dan tradisi Melayu. Antara lain dicontohkan oleh lagu-lagu P. Ramlee yang
tidak sedikit mengajak orang berbicara ketauhidan. Begitu jua lagu-lagu
Mashabi, seperti Renungkanlah, walaupun bertema cinta namun sopan. Demi
mengembalikan citra musik Melayu menjadi sopan dalam lirik dan penampilan serta
menanggapi persoalan gejolak kaum muda kala itu yang berbudaya snobis, Rhoma
Irama pun menggunakan syair berpetuah, argumentatif (dari kitab suci dan
observasi), komunikatif, dan optimistik. Lirik yang berdaya demikian ditujukan
bagi pengembangan mental umat. Lalu dari segi penampilan, Rhoma Irama
berperilaku selaiknya seorang muslimin yang sopan nan kharismatik kala di atas
pentas.

 

Reaksi dan Pengaruh

Sebagai seniman muslim, Rhoma Irama menghajatkan bakat musiknya teruntuk menyempurnakan
pengabdian vertikal kepada Tuhan dan perjuangan horisontal kepada umat. Namun,
pada prakteknya, rumus ini tidak mulus. Beragam rintangan menghadang. Antara
lain, perseteruan Rhoma Irama dengan beberapa musisi Rock pada ketika Rhoma
Irama menyuntikan dinamika musik Rock dalam musik Melayu di sekitar awal
1970-an.

Bahkan, tuduhan Rhoma Irama menjual ayat-ayat suci
Al-Qur’an pun pernah terlampir padanya. Tuduhan ini berujung pada sidang
pertanggungjawaban dan argumentasinya di hadapan para ulama sekitar Desember
1983. Selain itu, pelarangan tampil di TVRI juga sempat dirasakannya selama 11
tahun (1977-1988). Pelarangan ini diduga karena kecenderungan politik Rhoma
Irama pada Pemilu 1977 dan 1982 ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang berasas
Islam sebelum berganti asas Pancasila pada Pemilu selanjutnya (1987).

Dibalik rintangan dan halangan, tidak sedikit buah
dari perjuangan dan doa Rhoma Irama dalam berdangdut dakwah. Sosok berjulukan
Satria Bergitar ini tidak hanya jadi idola bagi penggemarnya, namun ia juga
menjadi patron bagi pengikut setia lagu dakwahnya. Berdasarkan data penjualan
kaset dan jumlah penonton film-film Rhoma Irama, William H. Frederick
memprediksikan, hingga pertengahan 1980-an, Rhoma Irama mempunyai penggemar dan
pengikut sekitar 15 juta jiwa. Dalam data sensus 1982, jumlah penduduk
Indonesia saat itu sekitar 146 juta jiwa. Berarti, jumlah penggemar dan
pengikut Rhoma Irama berkisar 10% penduduk Indonesia.

Berdasarkan data itu, maka tidak heran Rhoma Irama
disebut ikon budaya paling populer di Indonesia pada kala itu. Bahkan, beberapa
media cetak luar negeri pun memberi predikat khusus. Majalah Asiaweek
dalam artikel “Superstar with a Message” (edisi 16 Agustus 1985) menyebut Rhoma
Irama sebagai Southeast Asia Superstar. Majalah Entertaiment dari
Amerika Serikat, pada Februari 1992 mentitelkan Rhoma Irama sebagai Indonesian
Rocker.
Sedangkan di dalam negeri, salah satu penghargaan terhadap Rhoma
Irama diberikan ”Anugerah Dangdut TPI” 1997, berlangsung di Istora Senayan,
dengan kategori ”Penyanyi Dangdut Legenda”.

 

Renungan dalam Nada

Pemassaan dangdut dakwah dan figur seniman muslim
Rhoma Irama bersama Soneta telah berdampak luas baik horisontal, yakni memuai
di kalangan masyarakat urban dan pedesaan yang secara ekonomi berstatus
menengah ke bawah, dan juga vertikal, yakni memuai di kalangan pendidikan
tinggi atau universitas (mahasiswa), golongan militer, hingga birokrat negara.

Dan hingga kini, legenda hidup berusia 64 tahun
itu masih terus bernada dan dakwah bersama Soneta di blantika musik Tanah Air.
Bahkan, pada tahun ini, Rhoma Irama dan Soneta akan meluncurkan album baru
dengan seluruhnya adalah lagu-lagu baru. Rhoma Irama pun turut memprakarsai dan
mendukung penuh regenerasi Soneta yang diestafetkan kepada grup musik yang
divokaliskan oleh anaknya, yakni Sonet2 (Ridho Rhoma) dan SonetRock (Vicky).

Hal Ini membuktikan bahwa Rhoma Irama tak lelah
alias konsisten dalam melakukan perjuangan dan doa dalam bermusik. Maka, bila
ditanyakan kepada Anda, laikkah untuk dibanggakan musik dan sosok Rhoma Irama
sebagai aset budaya dan seniman pejuang nasional Kita?

 

 

Pustaka Acuan:

Wawancara:

Rhoma Irama. Wawancara lisan pada
Jumat, 16 April 2010, pukul 14. 08: 38 dan wawancara tulisan pada 3 Mei 2010.

Buku:

Kartanegara, EH (ed.). Musisiku 2. Jakarta: Penerbit Republika. 2009.

Lockard, Craig. A. Dance
of Life: Popular Music and Politics in Southeast Asia.
Honolulu: University
of Hawai’i Press. 1998.

Mack, Dieter. Apresiasi
Musik: Musik Populer
. (cetakan pertama). Yogyakarta: Yayasan Pustaka
Nusatama. 1995.

Jurnal dan Majalah:

Frederick, William H.. Rhoma Irama and the Dangdut Style: Aspects
of Contemporary Indonesian Popular Cultur
e. Indonesia, No 34. 1982.

Khusyairi, Johny Alfian. Geneologi Dangdut: Sebuah Upaya Melacak
Keaslian Dangdut.
Jurnal Mozaik: Jurnal Kebudayaan dan Kemasyarakatan. Vol, 1, no. 1,
Januari-Juni 2003.

“Rhoma Irama, Dangdut Bukan Musik Musiman”. Aktuil, No. 14, Tahun XII, 5 Mei 1980.

Tempo, 30 Juni 1984.

Sasongko, A Tjahjo dan Nug Katjasungkana. Pasang Surut Musik Rock di
Indonesia.
Prisma, No. 10. Oktober 1991.

 

Karya tidak terbit:

Susilo, Y. Edhi. Sejarah dan Perkembangan Musik Dangdut. Laporan Penelitian pada
Lembaga Penelitian Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. 1998.


 

[1] Peneliti
sejarah budaya di majalah Akar dan
anggota peneliti budaya di FIB UI, Depok. Komunikasi lebih lanjut, kontak di namialus_soe@yahoo.com,
sulaimanharahap19@gmail.com  dan sulaiman harahap@facebook.

[2] Nama
Irama berasal dari nama sandiwara Sunda yang digemari kedua orang tuanya, yakni
sandiwara Irama Baru yang dibintangi aktor ternama Tan Tjeng Bok dan aktris
Fifi Young. Sedangkan kata Oma
disematkan di depan nama Irama dikarenakan di kala kecil ia kerap memanggil
ibunya dengan sebutan Oma. Akhirnya kata Oma pun disematkan di depan kata Irama
menjadi Oma Irama. Lalu pada 1976, setelah Oma Irama berpulang dari haji (1975)
ia menambahkan predikat (H)aji dan status sosialnya sebagai ningrat—pesanan
dari ayahnya sebelum meninggal untuk dipakai pada nama—ditambahkanlah (R)aden,
sehingga namanya berubah dan menjadi begitu tenar dengan sebutan R.H.Oma Irama
atau lebih sering disamarkan menjadi Rhoma Irama. Tempo, 30 Juni 1984,
hal. 31

[3] Soneta adalah bentuk Kesusastraan Italia
yang lahir sejak kira-kira pertengahan abad ke-13 di kota Florence. Kemudian
menyebar ke seluruh Eropa, termasuk Inggris dan Belanda. Bentuk sastra ini
masuk ke Indonesia pada 1920-an dibawa oleh para pemuda Indonesai yang menuntut
ilmu di Belanda. Bentuk sastra ini beciri, 14 baris, 2 x 4 quatrin dan 2 x 3
tarzina, berumus abba, abba, cdc, cdc. Abdullah Ambary. Intisari Sastra
Indonesia
. Bandung: Djatnika. 1983. hal. 40. Rhoma Irama memilih nama ini
karena di waktu Sekolah Menengah Atas (SMA) ia sangat suka dengan bentuk syair
Soneta, kemudian ia terapkan dalam menuliskan syair lagu-lagunya. Wawancara
dengan Rhoma Irama Jumat, 16 April 2010, 14. 08: 38

[4] Ke tujuh orang tersebut memegang
instrumen, yakni rythm gitar oleh Wympy, bas elektrik oleh Herman
(kemudian diganti Popong pada 1976), mandolin oleh Nasir, perkusi (gendang dan
drum) oleh Kadir (kemudian diganti Chofiv pada 1976), tamborin dan timpani oleh
Ayub, synthesizer[4] atau keyboard
oleh Riswan, dan instrumen tiup suling bambu oleh Hadi. Di masa kemudian,
digunakan pula instrumen tiup, seperti saksofon tenor oleh Yanto, Saksofon Alto
oleh Farid, dan terompet oleh Dadi. Selain itu ditambah pula vokal pendukung
empat orang wanita yang disebut Soneta Femina.

[5] Selama kurang lebih 17 tahun, Rhoma
Irama bergelut seni peran. Puluhan film yang dibintanginya antara lain Penasaran
(1976), Gitar
Tua,
Darah Muda (1977), Berkelana, Berkelana II, Begadang, Raja Dangdut (1978), Cinta Segitiga, Camelia (1979), Perjuangan dan Doa, Melody Cinta (1980), Badai Diawal Bahagia (1981), Satria Bergitar, Cinta Kembar (1984), Pengabdian, Kemilau Cinta di Langit Jingga (1985), Menggapai Matahari, Menggapai Matahari II (1986), Nada-nada Rindu (1987), Bunga Desa (1988), Jaka Swara (1990), Nada dan Dakwah (1991), dan Tabir Biru (1993).

Category: Jurnal FIS, Jurnal FIS Edisi Agustus 2011

About the Author ()

Leave a Reply