Seluruh Mahasiswa FIS UM wajib memperbarui nomor HP yang aktif dan NIK (Nomor Induk Kependudukan) pada profil SIAKAD dan memeriksa kebenaran data pada http://forlap.ristekdikti.go.id/ DEMI MASA DEPAN ANDA

Mengintegrasikan Pertimbangan Lingkungan dalam Membangun Kembali Malang Raya Menuju Kota Pariwisata

| Oktober 19, 2011 | 0 Comments

MENGINTEGRASIKAN PERTIMBANGAN LINGKUNGAN DALAM MEMBANGUN KEMBALI MALANG RAYA MENUJU KOTA PARIWISATA

 Djajusman Hadi[1]

Abstract

Industrial development in great Malang as a characteristic of modernity has negative impact for environments. Many disasters, such as flood, air and water pollution, and traffic make a little visitor for tourism in Malang, to avoid this problem and to make Malang as center of tourism, we must make environment approach then environment can give guidance for pattern of human being life in Malang, absolutely based on preserving environments principle.

Key Words: Environment, Tourism, Great Malang

 

Kota-kota di Indonesia pada umumnya berkembang secara laissez-faire, tanpa dilandasi perencanaan kota yang menyeluruh dan terpadu. Kecuali pada kota-kota baru yang memang direncanakan sejak awal seperti Tanjungpura atau Tembagapura, kota-kota di Indonesia tidak betul-betul dipersiapkan atau direncanakan untuk dapat menampung pertumbuhan penduduk yang besar dalam waktu relatif pendek.

Oleh karena itu, bukan suatu pemandangan yang aneh bila kota-kota besar di Indonesia menampilkan wajah ganda. Di satu sisi terlihat perkembangan pembangunan yang serba mengesankan dalam wujud arsitektur modern dan pasca modern di sepanjang tepi jalan utama kota. Di balik semua keanggunan itu, terlihat menjamurnya lingkungan kumuh dengan sarana dan prasarana yang sangat tidak memadai untuk mendukung kelangsungan kehidupan manusia yang berbudaya.

Kawasan Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu) yang identik sebagai kota pariwisata kini sudah bergeser ke dalam jajaran kota industri, sebab dominasi sentra industri bukan hanya berbasis di sektor utara seperti Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo, tetapi sudah menjarah hingga daerah pegunungan. Ditinjau dari  aspek ekonomi tentu akan mendatangkan banyak manfaat bagi masyarakat luas. Berdirinya industri-industri baru secara otomatis meningkatkan pendapatan daerah dan mendongkrak devisa negara. Selain itu, juga akan berperan dalam mengatasi masalah pengangguran karena banyak menyerap tenaga kerja. Sedangkan kelemahannya adalah pencemaran limbah industri dan kemacetan polusi kota. Sungai yang semula mengalir jernih berfungsi sebagai salah satu sumber kehidupan penduduk, tidak dapat melanjutkan fungsinya lagi karena kadar pencemaran yang melampaui ambang batas.

Pertumbuhan industri yang pesat di kawasan Malang Raya merupakan ciri khas modernisasi yang menyebabkan dampak negatif. Berdasarkan kenyataan yang ada telah banyak terjadi kerusakan lingkungan baik di darat, laut, maupun udara. Misalnya terlintas pada kejadian tahun lalu yaitu terkontaminasinya air di waduk Karangkates Kabupaten Malang yang merugikan warga di sekitarnya, dan rusaknya habitat ikan yang ada. Belum lagi emisi gas buang yang dikeluarkan dari pabrik tanpa memperhatikan pranata lingkungan. Secara positif Indonesia boleh mencontoh negara lain seperti AS dalam menerapkan audit lingkungan walaupun sifatnya masih sukarela, namun sampai saat ini dua pertiga dari 110 perusahaan besar telah melakukannya.

Konon pada era kolonial Kota Malang sempat mendapat image barometernya kota indah penuh sejarah di Indonesia sebagai ”Paris van Java”. Nama besar Kota Malang lebih diilhami  atas potensi sumber daya alamnya  yang strategis dikelilingi pegunungan dan nuansa wisata Kota Batu yang mempunyai ciri khas sebagai Kota Apel. Selain itu, Malang Raya juga sempat dikenal sebagai barometernya olahraga, musik, pendidikan, dan kota budaya. Sedangkan julukan lain pada Malang Raya adalah sebagai kota bunga, karena dipandang sejuk, dan bersih sejak masa penjajahan Belanda silam. Sedangkan saat ini kondisi alamnya sudah berbeda, kalau siang panasnya menyengat sebaliknya kalau malam dingin sekali. Banjir perkotaan sudah menjadi pemandangan umum yang terbiasa karena lahan penyerapan air telah berubah menjadi bangunan perumahan, ruko-ruko, dan mall-plaza.

Masalah ruang terbuka hijau kota, meski dalam banyak hal Walikota melakukan pemeliharaan taman, ruang terbuka hijau, proyek hutan kota namun kenyataannya ruang terbuka hijau semakin sulit ditemukan. Kasus APP, Taman Indrokilo, GOR Pulosari yang berdiri di atas tanah resapan adalah contoh diantaranya. Kota Malang saat ini dibangun tidak lagi atas dasar potensi alam sebagai standarnya tetapi dilanggar karena kepentingan politis dan ekonomis semata.  Dalam kaitan ini Sudharto (2001) menjelaskan bahwa taman kota justru memberikan nafas ”kesejukan” menumbuhkan perasaan ”ayem”. Tidaklah mengherankan jika taman secara sosio-psikologis mampu meredam kebisingan warga kota yang pada gilirannya bisa mengurangi tindak kriminalitas.

 

Aset Budaya

Rutinitas Pemerintah Kabupaten Malang menggelar acara Grebeg Singasari, tidak lain merupakan rekonstruksi sejarah kejayaan Kerajaan Singasari (XIII M) di pentas sejarah nusantara. Ada sederatan nama tersohor, mulai dari Kendedes, Ken Arok, Kertanegara, hingga Empu Gandring. Tak heran jika para tokoh ini sering membintangi layar lebar, sinetron, hingga ketoprak sebagai apresiasi budaya nusantara. Sebenarnya pembangunan sektor wisata  di Kabupaten Malang cukup potensial karena sebelumnya mempunyai nilai historis yang sudah terkenal. Sebaliknya sebagai konsekuensinya, apa  pembangunan sektor pariwisata sudah diimbangi dengan perencanaan program pemantapan budaya seperti halnya mengenang kejayaan leluhur?

Berkaitan dengan masa depan Kabupaten Malang yang berbasis budaya, lalu bagaimana cara untuk mendongkrak sektor pariwisata seiring dengan pesatnya pertumbuhan pembangunan di Malang Raya? Apa pengembangan tata kota yang terfokus pada sektor  pariwisata harus melihat kondisi kota pendidikan, budaya, dan lain-lain, atau melihat prospek bisnis ilegal yang justru akan menggairahkan kunjungan wisata? Sestrategis apapun perencanaan ke depan untuk menggali aset wisata-budaya, tapi kalau tidak proporsional jelas akan menjadi bumerang. Kenyataan inilah yang sekarang menjadi silang pendapat antara pihak yang ingin diangkat kesejahteraannya dengan pihak lain yang mempertahankan legalitas kepentingan umum. Suatu hal yang kontradiktif jika Kabupaten Malang sebagai kota referensi sejarah, dan budaya leluhur tiba-tiba menggali asetnya dari bisnis wisata yang tidak mencerminkan intelektualitas. Kondisi inilah yang menjadi tantangan (treath) dalam pembangunan sektor pariwisata dalam perspektif elitisme terdidik.

Kenyataan menunjukkan, bahwa saat ini kondisi wilayah Kabupaten Malang berperilaku sangat berlainan dengan komunitas lingkungan di sekitarnya mengingat penduduknya yang heterogen/beragam dari etnis, agama, hingga budayanya.  Sehingga dengan muatan bisnis wisata ilegalpun oleh kelompok tertentu bisa diterima karena prospeknya menjanjikan. Kalau  Kabupaten Malang berkembang di luar kemampuan sumber alam untuk mendukungnya, terjadilah penurunan pertumbuhan daerah yang menyimpang. Penentuan batas-batas legalitas usaha wisata daerah semakin luas, dengan terusirnya kelompok grassroots dari  tepi kota, kemudian diganti oleh golongan elitisme, spekulan, dan kaum populis.

Apabila penghasilan penduduk dalam sebuah kota meningkat, mereka dapat berpindah makin jauh dari pusat kota dengan tujuan untuk menjahui keramaian dan kebisingan di pusat kota. Karena kelompok tertentu eksodus ke titik perkotaan, akibatnya keinginan untuk tetap menjaga keindahan pusat kota menjadi berkurang, sehingga memudarkan estetika wajah kota. Bersamaan dengan kepudaran ini kenikmatan hidup budaya kota akan menurun karena bergesernya perubahan nilai-nilai secara sosiologis (menurunnya nilai-nilai moralitas). Pusat kota berubah menjadi pusat perniagaan yang sepi dari pusat pendidikan, kebudayaan, kesenian, dan pariwisata ideal.

Sebenarnya, di Kabupaten Malang banyak ciri khas sumber daya budaya yang dapat direkonstruksi menjadi kumpulan produk unggulan hingga menjadi sentra kunjungan wisata. Mulai dari seni pahat topeng hingga memunculkan tarian topeng, kerajianan jaranan hingga mengilhami seni jaranan. Selain itu ada sanggar budaya yang terbukti turis mancanegara lebih mengenal wilayah Tumpang. Belum lagi galeri lukisan, kerajinan anyaman, sangkar burung, dan lain-lain. Di sisi lain, produk yang dihasilkan dari  program tersebut adalah terciptanya komunitas pariwisata berbasis budaya dan sejarah menuju arah pencanangan program  ”Visit Malang Year”. Adapun potensi yang dapat digali yaitu obyek-obyek wisata kota yang bernuansa asri, mencerminkan budaya, estetika lingkungan, dan bisa dijadikan media pembelajaran. Wujud kegiatan wisata yang bisa diciptakan melalui pengadaan pusat kerajinan yang berciri khas hasil karya warga Kabupaten Malang. Munculnya wisata-wisata pembelajaran bagi anak-anak melalui model-model kreativitas yang berdimensi sejarah merupakan manuver inovatif.

Sebenarnya rekonstruksi budaya tidak hanya pada ikon-ikon tertentu saja, karena mata rantainya banyak dan saling berhubungan. Oleh karena itu, bagaimana untuk membangun tata kota melalui produk  wisata unggulan? Pekerjaan berat memang menjadi tantangan, tapi setidaknya harus dimulai dari sekarang. Caranya dengan mengembalikan image masyarakat dan turis mancanegara agar bisa bernostalgia di  Kabupaten Malang,  seperti menemukan jati diri sejarah Indonesia berikut bukti peninggalannya yang masih ada dan terawat. Komunitas yang dibangun tidak hanya dari aspek obyek wisata saja, melainkan juga dari lingkungan fisik yang mengandung sejarah. Arsitektur atau bangunan-bangunan kuno yang mencerminkan karakteristik sejarah harus dipertahankan. Sebab, di jantung kota bangunan-bangunan utamanya bukan lagi rumah-rumah khas peninggalan Belanda, tetapi berubah menjadi rumah putih bertingkat dengan arsitektur  berbasis Spanyol, Amerika Serikat.

 

Pendekatan Lingkungan

Setiap 5 Juni bangsa-bangsa di dunia memperingati hari bumi atau biasa disebut juga hari lingkungan. Disetiap tanggal tersebut, kita melakukan perenungan terhadap alam sembari mengkalkulasi kerusakan dan pencemaran apa saja yang telah melanda lingkungan. Banyak faktor penyebab terjadinya kerusakan dan pencemaran lingkungan. Salah satunya adalah teknologi. Hal yang ironis karena dasar kemunculan teknologi  sebenarnya untuk mensejahterakan umat manusia tapi kenyatannya membawa bencana dan kerusakan. Sampai saat ini, masih banyak teknologi yang menyebabkan kerusakan dan pencemaran lingkungan. Untuk mengurangi dampak negatif dari teknologi ini maka perlu adanya hubungan yang sinergis antara teknologi dengan lingkungan dalam bentuk teknologi yang ramah lingkungan.

Dampak negatif teknologi terhadap lingkungan secara drastis tentunya mustahil untuk dihilangkan. Memvonis teknologi sebagai biang keladi secara ”kaca mata kuda” dengan menghentikan proses penemuan teknologi juga sangat tidak bijaksana. Yang perlu diyakini adalah bahwa setiap benda di dunia ini memiliki sisi baik dan sisi buruk. Hal itu merupakan suatu yang alami dan kodrati. Yang mungkin dan bijak untuk dilakukan yaitu dengan merubah cara pandang kita terhadap teknologi dan lingkungan sambil mengurangi dampak negatif dari teknologi terhadap lingkungan.

Pencemaran sungai dan perusakan hutan merupakan sebagian kecil dari indikator terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan yang sedang berlangsung di Indonesia. Hal ini terjadi, menurut Prof. Emil Salim, yang utama karena terjadi kesalahan paradigma dalam pengelolaan lingkungan untuk pembangunan. Selama ini kita kurang berpegang teguh pada paradigma pembangunan yang berkelanjutan.

Perkembangan teknologi yang tidak berwawasan lingkungan selama ini telah menempatkan teknologi sebagai salah satu penyebab terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan. Kondisi ini juga telah menempatkan teknologi dan lingkungan saling berhadapan sebagai pencemar dan yang dicemari. Filosofis awal yang melandasi kemunculan teknologi adalah untuk mensejahterakan umat manusia, dengan sendirinya sudah tidak lagi menjiwai keberadaan teknologi dalam kehidupan manusia.

Dalam konteks ini, CFC (klorofluorkarbon) merupakan contoh sederhana dari pencemaran yang diakibatkan oleh teknologi. CFC yang biasanya digunakan untuk gas penyejuk udara pada AC, pendingin pada kulkas dan aerosol pada kaleng penyemprot telah melubangi lapisan ozon hingga mencapai 20 juta km2. Berlubangnya lapisan ozon ini akan menyebabkan hilangnya alat pelindung manusia dari sengatan sinar ultra violet-B yang dapat menyebabkan kanker kulit dan melemahnya kekebalan tubuh.

Produk teknologi lainnya yang menyebabkan pencemaran dan perusakan lingkungan adalah bahan bakar dan kendaraan bermotor mengeluarkan emisi gas buang yang beracun dan sangat berbahaya karena mencemari udara. Bukan saja timbal, emisi gas buang yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor meliputi NO, CO, dan hidrokarbon. Emisi gas buang ini nantinya akan menyebabkan terjadinya kanker paru-paru, anak menjadi idiot dan berbagai penyakit lainnya. Dampak negatif teknologi terhadap lingkungan seperti tersebut tentu harus segera dikurangi. Untuk mengurangi emisi gas buang, misalnya perlu diterapkan bahan bakar bensin tanpa timbal yang dikombinasikan dengan alat tertentu untuk mengurangi emisi gas buang lainnya. Kedepannya pemerintah perlu secepatnya menerapkan bensin tanpa timbal dan penggunaan catalityc converter untuk mengurangi emisi gas buang kendaraan.

Sekarang ini kota metropolitan dan kota-kota besar di Indonesia termasuk wilayah  mengalami krisis  yang multi komplek dan sangat terkait. Masalah tersebut merupakan pertumbuhan populasi yang tidak  diimbangi dengan kesadaran lingkungan, peningkatan eksploitasi sumber daya alam, menipisnya lapisan ozon akibat polusi, dan penebangan hutan lindung yang mengakibatkan banjir bandang pada musim hujan. Khusus untuk kota langganan banjir, sering terjadi erosi, luapan air, kemacetan kota, sampai pencemaran limbah industri.

Implementasi kepedulian dan ikut menyelamatkan ekosistem yang rusak khususnya di kota besar, maka sebagai wujud memperingati hari lingkungan se-dunia langkah positif yang diambil menyangkut perubahan sikap sadar.  Sedangkan untuk merubah sikap sadar, hal-hal yang perlu dipertanyakan pada setiap warga sebagai evaluasi diri adalah: (1) Apakah anda memperhatikan beberapa isu global tentang kegersangan, pencemaran, kekeringan, hingga banjir?; (2) Gaya hidup anda yang bagaimanakah yang berdampak pada pencemaran lingkungan?; (3) Bagaimanakah cara anda mempersiapkan diri untuk menjadi warga yang sadar terhadap lingkungan?

Beberapa pertanyaan di atas, dapat digunakan sebagai cermin dalam mengidentifikasi langkah-langkah strategis yang harus diambil guna mensosialisasikan gerakan lingkungan hidup. Pertanyaan di atas tidak memerlukan jawaban pada sisi tataran kognitif atau pengetahuan belaka, namun menyangkut beberapa pertimbangan antara lain termasuk perasaan, sikap, dan tingkah laku dalam merespon kondisi lingkungan. Lebih dari itu pertanyaan di atas merupakan cara untuk mengekspresikan diri, meningkatkan kesadaran dan memastikan diri dengan sepenuh hati untuk mempelajari tentang arti pentingnya hakekat Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Keilmuan ini setidaknya sebagai pijakan warga atas kebiasaan yang membahayakan kehidupan manusia, timbulnya apa yang dinamakan new morality yang melanda kehidupan kota-kota besar patut menjadi permasalahan tersendiri yang memerlukan tindak pengamanannya.

Sejak tahun 1977 negara-negara di dunia (melalui konferensi PBB dilanjutkan pada konferensi Tbilisi) menetapkan perlunya Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), sebagai upaya membuat manusia sadar lingkungan. Kenyataannya saat ini sadar atau tidak, teknologi secara umum selain mendatangkan kemudahan juga potensial menyebabkan kerusakan. Produk-produk teknologi yang direpresentasikan dengan industri telah banyak memunculkan kerusakan lingkungan. Lantas bagaimana mengurangi kerusakan lingkungan lebih lanjut tanpa harus mengurangi kenyamanan?

 

Pembinaan Ilmu Lingkungan

Pembangunan berkelanjutan merupakan kebijaksanaan pemerintah Indonesia yang menuntut kesadaran lingkungan yang tinggi dari masyarakat. PLH merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan. Oleh karena itu, seiring diadakannya gerakan penghijauan seperti di Kota Surabaya dan Malang, hendaknya penanaman nilai-nilai Lingkungan Hidup ini perlu diimplementasikan sedini mungkin, baik melalui pendidikan formal maupun non formal dalam upaya membentuk warga kota yang sadar akan lingkungan.

Ilmu lingkungan atau apapun namanya, seperti ilmu lingkungan hidup atau ekologi perlu diketahui oleh setiap warga negara agar lebih mengenal dan mendalami lingkungan serta masalah-masalahnya demi kepentingan sendiri. Dalam mengenal dan mempelajari lingkungan, baik lingkungan hayati maupun yang non hayati, masyarakat akan menjumpai banyak masalah yang harus ia pecahkan untuk kelestarian dan kesejahteraan hidup. Sebagai catatan perlu diketahui bahwa Pemerintah Indonesia dulu pernah mempunyai gagasan untuk membina ahli-ahli ekologi secara profesional. Sebaliknya dalam konteks masyarakat kita sekarang belum ada tempat bagi seorang ekologiawan wiraswasta, yang ada adalah wadahnya yaitu seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Dalam implementasinya, pembinaan Lingkungan Hidup sejak dini mempunyai implikasi yang strategis bagi generasi penerus bangsa. Sedangkan pokok-pokok pikiran yang melandasi perlunya pengembangan PLH diantaranya adalah: Pertama, PLH melalui tingkat pendidikan dasar menempati posisi strategis dalam rangka penanaman wawasan lingkungan sejak dini. Kedua, penyajian materi PLH melalui berbagai bidang studi di setiap jenjang sekolah perlu dioptimalkan. Ketiga, guru perlu diberi kesempatan mengembangkan kreativitasnya dalam pengajaran PLH. Keempat, titik berat pengintegrasian PLH yang profesional ke dalam bidang studi IPA, IPS, dan PPKN. Kelima, PLH perlu disajikan bersamaan dengan kesempatan mengembangkan potensi lokal.

Dengan demikian, sudah saatnya diadakan evaluasi untuk memberikan gambaran yang lebih kongkrit ”potret” pelaksanaan PLH disamping adanya upaya untuk menawarkan salah satu alternatif pengembangan pengajaran PLH agar menjadi lebih efektif, yaitu dengan memberikan modul PLH kepada guru. Dengan upaya pembinaan lingkungan melalui jalur sekolah, mendorong perlunya perbaikan kualitas modul yang telah dihasilkan untuk dapat disebarkan (diseminasi) ke sasaran sekolah sebagai salah satu buku bahan ajar PLH integrative untuk SD dan SMP secara nasional. Buku bahan ajar PLH tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan belaka, tetapi juga mampu membentuk  manusia-manusia baru yang sadar akan lingkungan.

 

Penutup

Krisis perencanaan perkotaan sudah cukup jelas hal ihwalnya, antara lain karena masih langkanya tenaga profesional dalam bidang perencanaan kota dan daerah sehingga produk yang dihasilkan di berbagai tempat berkualitas sekedar pas-pasan atau bahkan di bawah standar. Selain itu, juga akibat tumpang tindihnya berbagai jenis perencanaan pada daerah yang sama oleh instansi yang berbeda, sehingga membingungkan aparat pelaksananya.

Untuk mengembalikan reputasi Malang Raya sebagai kawasan sentra Pariwisata di Jawa Timur peran pemerintah daerah sangat berpengaruh. Khususnya dalam menjembatani kesenjangan antara gairah membangun dari pemilik modal dengan kepentingan masyarakat pada umumnya. Artinya dalam kapasitas ini perlu dipikirkan adanya forum temu wicara yang sinambung antara para penentu kebijakan, pengusaha, profesional, ilmuwan, dan wakil-wakil rakyat untuk berbincang-bincang mengungkap dan memecahkan masalah perkotaan bersama-sama.

Atas dasar  pemikiran tersebut, gerakan  peduli lingkungan harus segera dilakukan secara serentak yang melibatkan seluruh elemen masyarakat untuk turut  memperbaiki tatanan lingkungan kota yang sudah gersang yakni melalui kampanye sadar lingkungan yang harus dimulai sejak dini. Oleh karena itu, estetika lingkungan, etika lingkungan dan masalah reboisasi adalah aspek-aspek yang dapat disumbangkan oleh keilmuan ekologi dalam menanamkan nilai-nilai pada warga kota. Dengan demikian doktrinasi pranata lingkungan perlu sekali diintegrasikan pada seluruh warga Malang Raya dalam upaya meraih reputasi barometer kota pariwisata di Indonesia.

 

 

Daftar Pustaka

  Anonimous. 1996. Sistem Peringkat dan Penghargaan Pemukiman Berwawasan  Lingkungan. Jakarta : Kantor Men LH, Kantor Menpera, Bapedal dan REI.

Dahuri, Rochimin. 1996. Mengintregasikan Pertimbangan Lingkungan Dalam Arus Tengah Pembangunan. Jakarta : Kompas, Februari 1996.

Direktorat Tata Kota dan Tata Daerah, Ditjen Cipta Karya, Departemen P.U., UU No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Jakarta : Ditjen Cipta Karya, Departemen  P.U. 1991.

Hadi, Djajusman. 2004. Ijo Royo-Royo Mematahkan Mitos Problem Perkotaan : Artikel Terbaik Pemkot Malang pada HUT Kota Malang ke-90. Malang : Malang Pos.

Hudson, Barclay. 2007. Comparison Planning Theories : Counterparts and Contracdition : Journal of The American Planning Association. 45:4. 387-397 Indonesian Centre for Environmental Law.

Kormondy, Edward. 2006. Concept of Ecology. New Jersey.

Panitia Besar Hari-Hari Nasional Kotamadya Daerah Tingkat II Malang. 1978. 64 Tahun Kota Malang Menuju Kota Pendidikan, Industri, dan Pariwisata.

Pusat Penelitian Lingkungan Hidup UNDIP. 2000. PPLH UNDIP Pertanyakan AMDAL Pengurugan PRPP. Semarang : Wawasan, 23 Februari 2000.

Riyanto, Wahyu Hidayat. 2005. Membangun Dari Malang : Kumpulan Tulisan. Malang : UMM Press.

Sudharto P. Hadi. 2001. Dimensi Lingkungan Perencanaan Pembangunan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

 


[1] Penulis adalah staf di Subag Tenaga Administratif Bagian Kepegawaian BAUK UM, aktivitas lainnya juga sebagai staf pengajar di Program Keahlian Bisnis dan Industri (PKBI) UM, Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dan sebagai Wakil Ketua Penyunting  Majalah Kampus ”Komunikasi” UM, Redaktur Majalah SWARA Humas UM, Redaktur Warta UM, Tim Humas UM, dan Anggota Humas Perguruan Tinggi se-Malang Raya, Anggota BPC Perhumas Malang.

 

Category: Jurnal FIS, Jurnal FIS Edisi Agustus 2011

About the Author ()

Leave a Reply