Seluruh Mahasiswa FIS UM wajib memperbarui nomor HP yang aktif dan NIK (Nomor Induk Kependudukan) pada profil SIAKAD dan memeriksa kebenaran data pada http://forlap.ristekdikti.go.id/ DEMI MASA DEPAN ANDA

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENYUSUN RPP MELALUI SUPERVISI KLINIS & IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN IPS

| Oktober 19, 2011 | 0 Comments

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENYUSUN RPP MELALUI SUPERVISI KLINIS & IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN IPS[1]

 

Daya Negri Wijaya[2]

 Abstract

Researcher found weakness of social studies lesson plan which made by the teacher. The same way, researcher found the weakness of the other lesson plan which in the main activity does not write exploration, elaboration, and confirmation. This problem need supervision and helping from the principle. The principle as a supervisor will do clinical supervision to improve the skills of teacher to arrange lesson plan based on Permendiknas No 41 Tahun 2007. The research use qualitative approach and school action research type. Applying clinical supervision start with agreement between supervisor and the research subject or teacher about the problem to solve, to collect lesson plan, to grade lesson plan, to give feed back for teacher, to teach teacher to arrange lesson plan, to grade and give feed back, and continue until the next cycle. Improving the skills of teacher to arrange lesson plan signed by more better lesson plan which made by the teacher, especially in core activity the teacher have done write exploration, elaboration, and confirmation and the evaluation sheet has complete then the teacher can choose the suitable method of teaching.

Key Words: Lesson Plan, Clinical Supervision, & Social Studies Teaching

Pembelajaran dalam tataran idealnya harus direncanakan, dilaksanakan, dan dinilai oleh seorang guru serta diawasi oleh kepala sekolah. Namun, dalam praktiknya di lapangan hal ini yang tidak begitu diperhatikan oleh guru yang harus memiliki kompetensi pedagogik dan kepala sekolah yang harus memiliki kompetensi supervisor.

Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah dapat disimpulkan bahwa kegagalan guru untuk membuat peserta didik itu belajar disebabkan karena faktor guru itu sendiri dan pengawasan kepala sekolah terhadap kinerja dari seorang guru yang bersifat instruksi bukan bersifat bimbingan atau bantuan. Sedangkan dari keterangan guru dapat disimpulkan bahwa, guru bingung ketika harus merumuskan RPP karena mata pelajaran yang diajar berbeda dengan latar belakang pendidikannya dan guru biasanya tinggal mengambil atau copy-paste dari MGMP

Penelitian ini peneliti batasi pada RPP, seorang guru yang kebingungan atau Copy-paste dalam membuat RPP jauh dari RPP sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan KTSP atau menurut Permendiknas No 41 Tahun 2007 akan berdampak pada kegagalan proses pembelajaran dan menghambat pula peningkatan mutu sekolah itu sendiri, sehingga upaya untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun RPP menjadi fokus dalam penelitian ini.

Perencanaan merupakan sesuatu yang inti dalam melaksanakan kegiatan termasuk pembelajaran, salah satu komponen yang harus dilakukan seorang guru ketika merencanakan pembelajaran adalah membuat RPP menurut Permendiknas No 41 Tahun 2007 sehingga dapat tercipta pembelajaran yang mengairahkan bagi para peserta didik. Dalam pembuatan RPP menurut Permendiknas No 41 Tahun 2007 ini diperlukan pengawasan dari kepala sekolah sebagai seorang supervisor. Kepala sekolah yang selanjutnya dalam penelitian ini disebut sebagai seorang supervisor membina, membimbing, dan memberikan bantuan terhadap guru dalam menyusun RPP.

Peneliti menemukan kesenjangan antara RPP IPS yang dibuat guru dengan RPP menurut Permendiknas No 41 tahun 2007. Kesenjangan atau beberapa komponen yang tidak sesuai dengan Permendiknas No 41 tahun 2007 yaitu, pertama, identitas mata pelajaran belum lengkap, dalam RPP IPS tersebut belum mencantumkan satuan pendidikan, kedua, kegiatan pembelajaran yakni dalam kegiatan inti belum mencantumkan proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, ketiga, penilaian hasil belajar belum lengkap, dalam RPP IPS tersebut belum mencantumkan cara penyekorannya. Hal yang sama peneliti juga jumpai pada RPP mata pelajaran lain yang dalam kegiatan pembelajaran terutama dalam kegiatan inti belum mencantumkan proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

Penelitian dari Sudarman (2005) yang berjudul Peranan Kepala Sekolah Dalam Melaksanakan Supervisi Klinis di SMP Negeri 1 Kunir Kabupaten Lumajang mengungkapkan bahwa kepala sekolah dalam menerapkan supervisi klinis pada guru untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi dilakukan dengan hati-hati agar guru yang dibantu tidak merasa tersinggung, semua permasalahan diberi tindakan nyata berupa bimbingan dan arahan serta dalam mendorong guru untuk meningkatkan kemampuan kinerja guru, dengan mengedepankan kemampuan berkomunikasi ke bawah dengan baik, terbuka terhadap semua permasalahan dan bersikap arif dalam memandang setiap permasalahan yang ada, permasalahan yang muncul merupakan permasalahan bersama yang penyelesaiannya secara bersama pula. Dengan demikian dapat mengatasi semua permasalahan yang timbal serta dapat menumbuhkan semangat kerja yang tinggi. Fokus dari penelitian Sudarman adalah mendeskripsikan kepala sekolah dalam melakukan supervisi klinis sedangkan penelitian yang peneliti lakukan berfokus pada proses pelaksanaan supervisi klinis untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun RPP dan meneruskan atau mengadopsi gagasan Sudarman tentang supervisi klinis dalam menanggulangi masalah di sekolah.

Kepala sekolah sebagai seorang supervisor akan melakukan supervisi klinis terhadap guru dalam penyusunan RPP sehingga dalam pengawasan yang diberikan supervisor ini dapat meningkatkan profesionalitas guru dan meningkatkan pembelajaran melalui pembelajaran efektif sehingga penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan karena berupaya meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun RPP. Selain itu dalam penelitian ini kepala sekolah berkolaborasi dengan dua orang supervisor yang memiliki kualifikasi akademik S2 IPS (Magister Pendidikan bidang Ilmu Pengetahuan Sosial) dan S2 TEP (Magister Pendidikan bidang Teknologi Pembelajaran) sehingga dengan adanya kolaborasi ini diharapkan adanya masukan dan bimbingan dari seorang ahli perancangan pembelajaran.

Masalah-masalah pokok dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana kemampuan awal guru dalam menyusun RPP, (2) Bagaimana penerapan supervisi klinis untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun RPP, (3) Bagaimana peningkatan kemampuan guru dalam menyusun RPP melalui supervisi klinis, dan (4) Bagaimana implikasi supervisi klinis terhadap pembelajaran IPS.

Penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan guru dalam upaya menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal, sekolah, serta kelas. Hal ini turut memperkuat relevansi pembelajaran bagi kebutuhan peserta didik. Dengan kemampuan menyusun RPP yang handal diharapkan para guru dapat memenuhi kompetensinya terutama kompetensi pedagogik. Selain itu dari penelitian ini dapat Meningkatkan profesionalisme kepala sekolah melalui upaya penelitian yang dilakukan bersama peneliti sehingga pemahaman kepala sekolah senantiasa meningkat terutama yang berkaitan kompetensinya sebagai seorang supervisor.

Sehubungan dengan uraian-uraian yang peneliti sampaikan diatas maka peneliti telah melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan Kemampuan Guru dalam Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) melalui Supervisi Klinis & Implikasinya Terhadap Pembelajaran IPS”.

 

Metode Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian yang menggunakan desain Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dengan pendekatan kualitatif. Sugiyono (2009:10) mengemukakan bahwa penelitian kualitatif memandang objek sebagai sesuatu yang dinamis, hasil konstruksi pemikiran, dan interpretasi terhadap gejala yang diamati, serta utuh (holistik) karena setiap aspek dari objek itu mempunyai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, jadi realitas itu merupakan konstruksi atau interpretasi dari pemahaman terhadap semua data yang tampak di lapangan.

Penelitian ini menekankan adanya kolaborasi dan partisipasi yang bersifat demokratis antara kepala sekolah dan peneliti. Penelitian ini merupakan suatu rangkaian langkah untuk mengatasi permasalahan yang timbul dalam ruang lingkup sekolah. Mulyasa (2009:9) mengemukakan bahwa penelitian tindakan sekolah (PTS) merupakan upaya untuk meningkatkan kinerja sistem pendidikan dan mengembangkan manajemen sekolah agar menjadi lebih produktif, efektif, dan efisien. PTS dapat diartikan sebagai sebuah upaya untuk memperbaiki kondisi dan memecahkan berbagai persoalan pendidikan yang dihadapi di sekolah. Pengertian tersebut menunjuk pada dua kata yang satu diantaranya harus ada dalam kegiatan penelitian tindakan sekolah, yaitu pemecahan masalah (problem solving) dan peningkatan (improving) kinerja sistem pendidikan serta manajemen sekolah, yang secara keseluruhan akan berdampak pada peningkatan mutu. Lebih lanjut Aqib (2009:3) juga mengungkapkan bahwa hakikat dari kegiatan PTS adalah seorang kepala sekolah atau pengawas yang memperbaiki kualitas penyelenggaraan pendidikan.

Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah guru dari setiap  mata pelajaran yang ada berdasarkan petunjuk dari kepala sekolah dan wakil kepala sekolah urusan kurikulum yang dianggap mengetahui situasi sosial dimana subjek penelitian itu berada, sehingga dapat dipastikan jumlah subjek penelitian ini 11 guru. Penelitian ini dilaksanakan Sejak bulan juli 2010 hingga april 2011 sehingga dapat dikatakan waktu penelitian ini pada tahun pelajaran 2010/2011.

Penelitian ini difokuskan pada kemampuan awal guru dalam menyusun RPP menurut Permendiknas No 41 Tahun 2007, penerapan supervisi klinis dalam meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun RPP menurut Permendiknas No 41 Tahun 2007, dan peningkatan kemampuan guru dalam menyusun RPP menurut Permendiknas No 41 Tahun 2007. Dalam penelitian ini tidak melihat aspek lain selain supervisi klinis yang membuat peningkatan kemampuan guru dalam menyusun RPP.

Instrumen penelitian merupakan alat bantu dalam mengumpulkan data. Dalam penelitian ini yang berorientasi pada proses membuat peneliti berfokus pada proses tindakan yang meliputi perilaku supervisor dan guru, respon dari guru mengenai supervisor dan tindakan yang diberikan, dan suasana proses tindakan sehingga penelitilah yang menjadi instrumen kunci dengan bantuan lembar observasi dan pedoman wawancara. Selain itu untuk menilai kemampuan guru dalam menyusun RPP supervisor memberikan penilaian berpedoman pada APKG (Acuan Penilaian Kemampuan Guru) kemudian supervisor memberikan umpan balik dengan berpedoman pada hasil penilaian menurut APKG dan berdasarkan komponen serta prinsip penyusunan RPP menurut Permendiknas No 41 Tahun 2007, umpan balik dari supervisor ini berguna untuk mengetahui kekurangan dari RPP yang dibuat guru. Catatan lapangan dari dokumentasi (Hasil penilaian & umpan balik supervisor) dipakai untuk mendeskripsikan kondisi awal kemampuan guru dalam menyusun RPP dan peningkatan kemampuan guru dalam menyusun RPP, sedangkan catatan lapangan dari observasi, wawancara, dan dokumentasi (foto) digunakan untuk mendeskripsikan penerapan tindakan yang dilakukan meliputi bagaimana perilaku supervisor, perilaku subjek penelitian, dan suasana yang terjadi saat itu serta implikasi supervisi klinis terhadap pembelajaran IPS.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah naratif kualitatif yakni mendeskripsikan atau menggambarkan bagaimana kondisi awal kemampuan guru dalam menyusun RPP, pelaksanaan tindakan memberikan supervisi klinis pada guru untuk menyusun RPP yang sesuai dengan Permendiknas No 41, dan peningkatan yang dialami guru dalam menyusun RPP. Miles & Huberman (Dalam Sugiyono, 2009:246) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Kriteria keberhasilan supervisi klinis menurut Maisyaroh (2001:52) terbagi menjadi dua hal yakni dari segi proses dan dari segi hasil. Keberhasilan supervisi dari segi proses, apakah supervisor telah mampu melaksanakan kegiatan supervisi klinis secara tepat, baik dalam tahap pendahuluan, observasi, maupun dalam umpan balik sedangkan dari segi hasil dapat dilihat dari perubahan perilaku guru yang disupervisi.

 

Hasil Penelitian

Penelitian ini terbagi menjadi tiga tahap yakni pra siklus & siklus I. Kegiatan pra siklus ini berguna untuk mengetahui kemampuan awal guru dalam menyusun RPP menurut Permendiknas No 41 Tahun 2007. Dari hasil penilaian dan umpan balik yang telah diberikan supervisor dapat disimpulkan bahwa terdapat kesenjangan antara RPP yang dibuat guru dan RPP menurut Permendiknas No 41 Tahun 2007 terutama dalam perumusan langkah kegiatan inti yang belum menampilkan proses eksplorasi, elaborasi, serta konfirmasi dan instrumen penilaian yang belum lengkap.

Siklus I terdiri perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam kegiatan perencanaan tindakan supervisor membuat kesepakatan waktu dan tempat bersama subjek penelitian untuk berdiskusi tentang RPP yang telah dibuatnya, menyiapkan rencana pelaksanaan pertemuan, menyiapkan materi yang akan disampaikan, menyiapkan lembar observasi kegiatan, dan menyiapkan pedoman wawancara.

Dalam pelaksanaan tindakan, pada hari sabtu tanggal 20 November 2010, supervisor bersama subjek penelitian bersepakat untuk berdiskusi tentang RPP yang ideal seperti apa. Pertemuan ini disepakati dimulai pada jam 10.00 tetapi karena semua guru berkumpul di aula sekolah karena ada sosialisasi PTK serta prosedur tindakannya dari pengawas maka pertemuan ini diundur sekitar jam 11.40

Pertemuan yang bertempat di ruang multimedia dimulai dengan sambutan dari kepala sekolah yang membahas tujuan dari pelaksanaan supervisi klinis ini yakni untuk memperluas wawasan serta meningkatkan kemampuan dalam menyusun RPP yang ideal. Kepala sekolah yang berperan sebagai supervisor I kemudian memberikan informasi tentang pentingnya perencanaan dalam pembelajaran, beliau memberikan analogi guru sebagai seorang desainer, desainer dalam membuat baju yang pas untuk pemakainya dengan cara membuat desainnya terlebih dahulu sama halnya dengan seorang guru dalam pembelajaran, jika pembelajaran yang dilakukannya baik berarti guru tersebut merencanakan pembelajaran dengan baik demikian juga sebaliknya.

Supervisor I dalam memberikan informasi terlihat santun dan berusaha meyakinkan subjek penelitian bahwa perencanaan memang harus dilakukan sebelum melakukan proses pembelajaran. Beliau sebagai lulusan manajemen pendidikan terlihat begitu ahli dalam menyampaikan informasi tentang pembelajaran terutama dalam perencanaan.

Setelah supervisor I selesai memberikan informasi tentang pentingnya perencanaan pembelajaran kemudian beberapa guru meminta izin agar pertemuan ini diistirahatkan sebentar untuk shalat dhuhur.

Setelah berkumpul kembali supervisor II memberikan informasi tentang komponen-komponen RPP terutama berfokus pada langkah-langkah pembelajaran dan kelengkapan instrumen penilaian pembelajaran. Beliau menjelaskan dalam langkah-langkah pembelajaran yang berorientasi pada siswa sesuai dengan permendiknas no. 41 tahun 2007 harus secara jelas mencantumkan proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi sedangkan dalam mencantumkan instrumen penilaian harus lengkap mulai dari soal, jawaban, dan pedoman penyekorannya.

Supervisor II dalam memberikan informasi terlihat sabar dan penuh semangat serta berada di tengah subjek penelitian dan suasana yang terbangun saat itu penuh dengan kehangatan.

Subjek penelitian dalam menerima informasi dari supervisor terlihat ada yang memperhatikan, ada juga yang mencatat, serta ada juga yang mengobrol tetapi setelah istirahat shalat dhuhur perhatian serta konsentrasi subjek penelitian meningkat.

Setelah supervisor selesai memberikan informasi, kemudian diteruskan dengan diskusi antara subjek penelitian dan supervisor tentang RPP dari subjek penelitian yang telah diberi umpan balik oleh supervisor. Subjek penelitian banyak yang bertanya tentang langkah-langkah pembelajaran yang mencantumkan proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Supervisor (seperti yang tergambar dalam gambar disamping) kemudian memberikan penjelasan tentang ketiga proses tersebut dan terlihat subjek penelitian bingung ketika diberi informasi tersebut tetapi subjek penelitian dapat memahami informasi tersebut ketika diberikan contoh RPP yang mencantumkan proses tersebut. Suasana yang terbangun saat diskusi berjalan sangat kondusif, subjek penelitian terlihat dapat menerima umpan balik dari  supervisor. Subjek penelitian juga terlihat berdiskusi.

Setelah diskusi selesai kemudian subjek penelitian diminta untuk praktik memperbaiki RPP dengan berpedoman pada umpan balik dari supervisor dan bimbingan dari supervisor, tetapi karena waktu sudah sore maka disepakati bersama bahwa RPP perbaikan tersebut dikumpulkan minggu depan yakni hari sabtu tanggal 23 oktober 2010. Pertemuan ditutup dengan kata terima kasih dari kedua belah pihak.

Dalam observasi tindakan yang dilakukan supervisor berlangsung setelah kegiatan untuk memberikan penilaian terhadap RPP yang dibuat guru dengan berpedoman pada APKG dan memberi umpan balik berdasarkan hasil penilaian serta berdasarkan komponen & prinsip penyusunan RPP menurut Permendiknas No 41 Tahun 2007. Dari hasil penilaian terhadap RPP yang dibuat guru dapat disimpulkan bahwa RPP yang dibuat sudah sesuai dengan Permendiknas tetapi ada beberapa komponen yang harus dilengkapi seperti dalam kegiatan inti belum mencantumkan kegiatan eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dan instrumen penilaiannya belum lengkap dan dari hasil penilaian tersebut supervisor memberikan umpan balik terhadap guru.

Dalam kegiatan refleksi, terdapat beberapa kekurangan dalam pelaksanaan tindakan yakni diperlukannya seorang ahli desain pembelajaran untuk memberikan penguatan dalam guru menyusun RPP sehingga dalam kegiatan atau siklus berikutnya dapat diajak untuk berkolaborasi sedangkan kelebihan dari tindakan ini terjadi peningkatan kemampuan guru dalam menyusun RPP terutama yang berkenaan dengan kegiatan inti dan instrumen penilaian. Subjek penelitian merasa mendapat tambahan pengetahuan tentang penyusunan RPP sesuai Permendiknas No 41 Tahun 2007, supervisor menilai kemampuan subjek penelitian dalam menentukan metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi siswa masih perlu untuk ditingkatkan, dan supervisor selain memberikan umpan balik secara tertulis perlu kiranya memberikan umpan balik secara lisan.

Siklus II terdiri perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada kegiatan perencanaan ini beberapa hal yang dilakukan supervisor adalah sebagai berikut: (1) mendorong guru untuk mengemukakan permasalahan yang dialaminya dalam menyusun RPP yakni permasalahan pemilihan metode pembelajaran kemudian membuat solusi bersama subjek penelitian; (2) memberikan umpan balik secara lisan untuk member penguatan terhadap solusi dari masalah subjek penelitian (3) membuat kesepakatan waktu dan tempat bersama subjek penelitian untuk berdiskusi tentang RPP yang telah dibuatnya pada hari sabtu tanggal 19 Februari 2011 jam 12.30 WIB; dan (4) praktik subjek penelitian dalam menyusun RPP dikerjakan secara mandiri di rumah.

Pada hari sabtu tanggal 19 Februari 2011, supervisor bersama subjek penelitian bersepakat untuk berdialog tentang permasalahan yang dialami subjek penelitian saat menyusun RPP, solusi dari permasalahan tersebut, dan pemberian umpan balik secara lisan oleh supervisor. Pertemuan ini disepakati dimulai sekitar jam 12.30 WIB dan ada seorang subjek penelitian yang tidak hadir yakni GI.

Pertemuan yang bertempat di ruang multimedia dimulai dengan pengarahan dari kepala sekolah sebagai seorang supervisor untuk membentuk tempat duduk secara melingkar sehingga diskusinya dapat didengar dalam forum. Supervisor kemudian memberikan kesempatan bagi subjek penelitian untuk mengemukakan permasalahan yang dialami saat menyusun RPP dan dicari solusinya dalam forum.

SN kemudian mengacungkan tangan dan berpendapat bahwa permasalahan yang dialaminya dalam menyusun RPP adalah waktu yang sangat terbatas dan tugas dari sekolah yang banyak. SN mengungkapkan bagaimana kita bias menyusun RPP yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa dan suasana kelas jika pikiran kita terfokus pada urusan lain, beberapa guru kemudian juga sependapat dengan permasalahan ini. Mereka mengungkapkan bahwa mereka tidak mungkin membawa urusan dinas ke rumah karena ada urusan yang lebih penting yakni mengurusi suami dan anak. SS memiliki pendapat yang berbeda menurutnya permasalahan yang dialaminya saat menyusun RPP adalah rasa malas dan bingung saat menentukan metode. Suasana saat pengungkapan masalah terlihat tegang.

Supervisor kemudian mulai menawarkan pada subjek penelitian bagaimana solusi dari permasalahan tersebut, DPA kemudian berpendapat bahwa pada permasalahan sedikit waktu dan banyak tugas dari sekolah, sebagai seorang guru kita harus bersikap jernih dan profesional, kita harus bisa mengelola waktu karena ini memang tugas kita, SM kemudian juga bersepakat bahwa bagaimana anak didik kita bisa disiplin jika gurunya tidak professional, suasana bertambah tegang saat NR berpendapat bahwa kebingungan dari guru dalam menentukan metode yang tepat karena kurangnya referensi tentang metode-metode yang inovatif dan saat ini di toko buku banyak bertebaran buku tentang itu sehingga guru seharusnya mempunyai salah satu buku tersebut.

Supervisor kemudian mulai mencairkan suasana dengan memberi penguatan terhadap solusi dari permasalahan guru dalam menyusun RPP. Setelah itu supervisor memberikan umpan balik secara lisan beserta alasannya tentang RPP yang dibuat subjek penelitian pada siklus I. Pertemuan ini ditutup pada jam 14.15 dengan kesepakatan RPP perbaikan dikumpulkan pada hari senin tanggal 21 Februari 2011.

Pada tahap observasi dapat disimpulkan bahwa supervisor pada siklus II terhadap RPP subjek penelitian dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam menyusun RPP tergolong tinggi karena subjek penelitian dapat memilih metode yang tepat sesuai situasi dan kondisi siswa dan kelas, mencantumkan proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, dan melengkapi instrumen dan dari hasil penilaian tersebut supervisor memberikan umpan balik terhadap guru.

Tahap refleksi dilakukan untuk menentukan apakah tindakan siklus II sudah berhasil atau belum. Berdasarkan analisis hasil penilaian RPP yang dibuat subjek penelitian setelah siklus II berakhir menunjukkan taraf peningkatan dalam menentukan metode yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi siswa dan kelas, mencantumkan proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi pada kegiatan inti pembelajaran, dan melengkapi instrumen penilaian. Pada siklus II subjek penelitian telah mengungkapkan permasalahan yang dialaminya saat menyusun RPP dan berdialog bersama supervisor tentang solusi dari permasalahan tersebut. Apabila beberapa orang subjek penelitian masih menemui permasalahan dalam menyusun RPP maka akan diberi masukan atau saran mengenai permasalahan tersebut secara mandiri atau bersifat konsultatif.

Supervisi klinis yang dilakukan supervisor terhadap RPP, ternyata mendapat respon dari guru IPS, guru tersebut mencoba untuk mengimplementasikan dalam pembelajaran dan menularkannya pada guru IPS lain. Dari wawancara yang dilakukan pada ketiga guru IPS dapat disimpulkan bahwa guru IPS yang diberi supervisi mencoba untuk mengaplikasikan RPP dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menitikberatkan pada siswa yang belajar serta memakai metode yang inovatif, guru IPS yang diberi tindakan memberikan informasi pada guru IPS lain jika guru lain tersebut bertanya, dan guru IPS yang lain sering mempertanyakan bagaimana menentukan metode yang cocok dalam pembelajaran.

Pada hari Rabu tanggal 4 Mei 2011 (07.00-08.20) guru IPS (NS) menerapkan model pembelajaran kooperatif Tebak Kata di kelas VIII A pada pokok bahasan pengendalian sosial. Pada awal pembelajaran guru IPS memotivasi peserta didik serta menyebutkan tujuan pembelajaran, guru kemudian membagi siswa dalam enam kelompok dan menjelaskan langkah-langkah yang digunakan yakni penerapan dari metode tebak kata. Pada kegiatan eksplorasi guru terlihat menggali & membangun pengetahuan siswa dengan memberikan pertanyaan dan tebakan tetapi peserta didik belum diberi kesempatan untuk membaca materi, dalam kegiatan elaborasi guru terlihat membimbing peserta didik dalam menuliskan konsep & arahan dari konsep tersebut, dalam kegiatan konfirmasi guru terlihat mengawasi siswa dalam memberikan arahan dari konsep tersebut dan mengawasi siswa dalam menembak konsep tersebut (Hasil Observasi, Tanggal 4 Mei 2011)

Pada hari Rabu tanggal 4 Mei 2011 (07.00-08.20) guru IPS (NS) menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning di kelas VIII A pada pokok bahasan ketenagakerjaan. Pada awal pembelajaran guru memotivasi peserta didik serta menyebutkan tujuan pembelajaran, guru kemudian membagi siswa dalam enam kelompok dan menjelaskan langkah-langkah yang digunakan yakni penerapan dari model pembelajaran berbasis masalah. Guru kemudian mengorganisasi siswa pada masalah dan mengarahkan siswa untuk belajar. Dalam penyelidikan terlihat guru membimbing anak dalam mengerjakan tugas, kemudian siswa dibimbing dalam mengembangkan dan menyajikan hasil karya serta dibimbing dalam menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah dan melakukan refleksi bersama siswa terhadap pembelajaran yang dilakukan

 

Pembahasan

Kemampuan awal guru dalam menyusun RPP diperoleh dari hasil wawancara dan observasi peneliti terhadap RPP subjek penelitian serta penilaian dan umpan balik dari Supervisor terhadap RPP subjek penelitian saat praobservasi.

Hasil wawancara peneliti terhadap beberapa subjek penelitian dapat disimpulkan bahwa guru bingung ketika harus merumuskan RPP karena mata pelajaran yang diajar berbeda dengan latar belakang pendidikannya serta masih menggunakan RPP hasil MGMP yang dirasa belum sesuai dengan Permendiknas No 41 Tahun 2007.

Perbedaan latar belakang pendidikan dengan pelajaran yang diajarkan oleh seorang guru tentu menimbulkan permasalahan dalam pembelajaran. Permasalahannya antara lain guru tersebut tidak memahami konsep-konsep kunci dari sebuah mata pelajaran, guru tersebut kesulitan dalam mengimplementasikan kurikulum suatu mata pelajaran pada pembelajaran terutama pada perencanaan pembelajaran yang bermuara pada RPP, dan tidak terlalu menguasai materi pelajarannya.

Hasil observasi peneliti terhadap RPP mata pelajaran IPS dapat disimpulkan bahwa terdapat kesenjangan antara RPP IPS yang dibuat guru dengan RPP menurut Permendiknas No 41 tahun 2007. Kesenjangan atau beberapa komponen yang tidak sesuai dengan Permendiknas No 41 tahun 2007 yaitu, pertama, identitas mata pelajaran belum lengkap, dalam RPP IPS tersebut belum mencantumkan satuan pendidikan, kedua, kegiatan pembelajaran yakni dalam kegiatan inti belum mencantumkan proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, ketiga, penilaian hasil belajar belum lengkap, dalam RPP IPS tersebut belum mencantumkan cara penyekorannya. Hal yang sama peneliti juga jumpai pada RPP mata pelajaran lain yang dalam kegiatan pembelajaran terutama dalam kegiatan inti belum mencantumkan proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

Ketidaksesuaian RPP buatan guru didukung oleh hasil penilaian dan umpan balik dari supervisor pada praobservasi terhadap RPP IPS dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru IPS dalam menyusun RPP tergolong sedang karena belum mencantumkan proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi pada kegiatan inti serta instrumen penilaian belum lengkap sedangkan pada RPP mata pelajaran lain juga ditemukan kesenjangan serupa.

Kemampuan guru menurut Glickman (dalam Sahertian & Ida A.S, 1990:41-42) dapat diukur dan dinilai jika kita menggunakan suatu model analisis kategori guru. Dalam model ini untuk item kemampuan awal guru dalam menyusun RPP akan dilihat bagaimana berpikir abstrak subjek penelitian dalam menyusun RPP. Berpikir abstrak dan imajinatif adalah kemampuan untuk memindahkan konsep dan visualisasi, mengidentifikasi, kemampuan untuk menangkap, mengkategorisasikan dan mengumpulkan.

Kemampuan awal guru IPS dalam menyusun RPP jika dilihat dari model analisis kategori dari segi kemampuan atau berpikir abstrak, tergolong rendah karena tidak memiliki inisiatif dalam menyusun RPP karena hanya copy-paste dari MGMP sedangkan kemampuan awal guru mata pelajaran lain dalam menyusun RPP jika dilihat dari model analisis kategori dari segi kemampuan atau berpikir abstrak, tergolong rendah karena guru kebingungan dalam merumuskan RPP karena mata pelajaran yang diajarkan berbeda dengan latar belakang pendidikannya dan tidak memiliki inisiatif dalam menyusun RPP karena hanya copy-paste dari MGMP.

Kemampuan berpikir abstrak yang rendah ini akan mengakibatkan kinerja guru yang belum maksimal terutama dalam pembelajaran di kelas karena pelaksanaan pembelajaran tidak akan maksimal jika tidak didukung oleh perencanaan pembelajaran yang matang dan perencanaan pembelajaran ini bermuara pada RPP. Pembelajaran yang tidak maksimal merupakan permasalahan dalam satuan pendidikan. Kepala sekolah merupakan pimpinan satuan pendidikan yang bertanggung jawab dalam berjalannya pembelajaran, jika pembelajaran tidak maksimal diperlukan supervisi dari kepala sekolah sebagai seorang supervisor untuk menanggulangi masalah guru dalam menyusun RPP.

Muslim (2009:86) mengemukakan bahwa ketika seorang supervisor mulai memberikan supervisi pada guru, supervisor perlu memperhatikan kondisi guru tersebut sehingga pendekatan yang digunakan dapat efektif. Pada guru yang drop out atau berpikir abstraknya rendah, akan lebih efektif kalau disupervisi dengan menggunakan pendekatan direktif maka dalam pelaksanaan supervisi klinis ini akan digunakan pendekatan direktif secara kolaboratif dalam rapat guru.

Supervisi klinis sering disamakan sebagai susunan model dengan langkah tertentu atau sebagai satu susunan proses pelaksanaannya terdiri dari beberapa tahap, Goldhammer dalam Sagala (2010:201) mendefinisikan lima langkah supervisi klinis yakni (1) pertemuan praobservasi antara supervisor dengan guru; (2) melakukan observasi saat guru mengajar di kelas; (3) strategi dan analisa menggunakan instrumen yang telah disepakati bersama; (4) melakukan pertemuan supervisi setelah melakukan pengamatan terhadap guru saat mengajar di kelas, dalam pertemuan ini dibahas umpan balik dan alternatif pemecahan masalah yang ditemukan; dan (5) analisa sesudah pertemuan sekaligus merumuskan solusi yang dapat mengatasi kesulitan guru dalam mengajar. Sedangkan Sagala (2010:203) sendiri mengungkapkan bahwa tahapan pelaksanaan supervisi klinis yakni dimulai dari pra observasi atau pertemuan awal, mengamati guru di kelas, dan melakukan umpan balik.

La Sulo (1984:10) mengungkapkan bahwa supervisi klinis berlangsung dalam suatu proses yang berbentuk siklus dengan tiga tahapan yakni pertemuan awal, observasi, dan pertemuan akhir. Burhanuddin (2007:36) lebih lanjut mengungkapkan bahwa prosedur supervisi klinis selain menempuh 5 langkah di atas banyak ahli supervisi klinis yang menyederhanakan menjadi tiga langkah saja yaitu pertemuan pendahuluan, observasi, dan pertemuan balikan.

Pada penelitian ini penerapan supervisi klinis untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun RPP terbagi menjadi dua siklus dalam setiap siklus melalui tiga tahap yakni tahap pendahuluan, observasi, dan umpan balik.

Pada tahap pendahuluan, supervisor melakukan kesepakatan dengan subjek penelitian tentang waktu dan tempat supervisi serta pemberian informasi tentang tujuan pelaksanaan supervisi. Kemudian supervisor pada saat pelaksanaan supervisi klinis pada siklus I memberikan informasi yang berkaitan dengan RPP dan pada siklus II bersama subjek penelitian menggali permasalahan yang dialami subjek saat menyusun RPP serta dicari solusinya bersama supervisor.

Hal diatas sesuai dengan pendapat dari Burhanuddin, dkk (2007:37) bahwa pada pertemuan pendahuluan atau praobservasi, supervisor membicarakan kemampuan mengajar yang ingin ditingkatkan oleh guru kemudian disepakati bersama oleh guru dan supervisor. Pelaksanaan supervisi klinis pada tahap pendahuluan ini membutuhkan kiat supervisor dalam menciptakan suasana yang menyenangkan, suasana kekeluargaan, kesejawatan, dan kehangatan. Guru tidak merasa takut atau tertekan sehingga guru mau dan berani mengungkapkan permasalahan dan kebutuhan dalam mengajar di kelas

Pada tahap observasi ini supervisor memberikan penilaian terhadap RPP yang dibuat subjek penelitian pada prasiklus, siklus I, dan Siklus II berdasarkan APKG (Alat Penilaian Kemampuan Guru). APKG digunakan sebagai pedoman penilaian RPP dalam penelitian ini karena dalam APKG terdapat berbagai model instrumen yang dapat dipakai dalam penilaian kinerja guru yakni skala penilaian dan (lembar) observasi (Depdiknas, 2008:35). Pada prasiklus supervisor memberikan penilaian terhadap 11 RPP guru yang bersedia menjadi subjek penelitian tetapi pada siklus I & II supervisor memberikan penilaian terhadap 10 RPP yang dibuat subjek setelah diberi umpan balik karena seorang subjek penelitian tidak mengumpulkan RPP setelah diberi tindakan dengan alasan sibuk karena memliki banyak tugas dari sekolah.

Hal diatas sesuai dengan pendapat La Sulo (1984:11) bahwa dalam tahap observasi guru melakukan pembelajaran dengan menerapkan komponen-komponen keterampilan yang telah disepakati pada pertemuan awal. Sementara supervisor mengadakan observasi dengan menggunakan alat yang telah disekati bersama. Hal-hal yang diobservasi adalah hal-hal yang telah disepakati pada pertemuan awal.

Pada tahap pemberian umpan balik, supervisor memberikan saran serta penguatan terhadap RPP subjek penelitian berdasarkan hasil penilaian dan Permendiknas No 41 Tahun 2007. Pemberian umpan balik ini dilakukan secara tertulis dan lisan. Pemberian umpan balik secara tertulis melalui lembar pemberian umpan balik dilakukan pada prasiklus, siklus I, dan siklus II sedangkan pemberian umpan balik secara lisan diberikan pada siklus II. Pada siklus II supervisor meminta subjek penelitian untuk mengemukakan permasalahan guru dalam menyusun RPP dan solusi dari permasalahan tersebut kemudian supervisor memberikan penguatan terhadap solusi dari permasalahan tersebut.

Hal diatas sesuai dengan Burhanuddin, dkk (2007:38) bahwa pada tahap pemberian umpan balik, supervisor membahas hasil observasi terhadap guru. Supervisor menyajikan data apa adanya kepada guru setelah guru diminta menilai penampilannya. Kemudian dicari pemecahan permasalahannya

Keberhasilan pelaksanaan supervisi klinis menurut Maisyaroh (2001:52) dari segi proses apabila supervisor telah mampu melaksanakan kegiatan supervisi klinis secara tepat, baik dalam tahap pendahuluan, observasi, maupun dalam umpan balik. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti, nampak bahwa pelaksanaan supervisi klinis dapat terselesaikan dengan lancar walaupun dengan waktu yang sangat terbatas karena kesibukan pribadi maupun kesibukan dari tugas sekolah. Suasana yang terbangun saat pertemuan berlangsung hangat dan kondusif pada pertemuan I (Siklus I) dan tegang pada pertemuan II (Siklus II). Situasi dan kondisi saat pelaksaan supervisi klinis dengan teknik rapat guru terlihat kondusif jika supervisor yang memberikan informasi tentang RPP serta memberikan umpan balik terhadap RPP yang dibuat tetapi suasana berubah menjadi tegang ketika subjek penelitian memaparkan permasalahannya. Pelaksanaan supervisi klinis ini mendapat berbagai respon dari beberapa subjek penelitian, dari keterangan subjek penelitian dapat disimpulkan bahwa supervisi klinis sudah berjalan lancar. Dari segi informasi yang diberikan supervisor dapat diterima dan memberikan pengetahuan baru bagi guru dalam menyusun RPP, supervisor juga memberikan motivasi bagi guru dalam menyusun RPP, suasana yang berlangsung saat itu kondusif walaupun pada sesi diskusi terjadi perbedaan pendapat antara supervisor dan subjek penelitian dan pelaksanaan supervisi klinis ini membantu guru dalam menyusun RPP.

Kriteria keberhasilan supervisi klinis menurut Maisyaroh (2001:52) terbagi menjadi dua hal yakni dari segi proses dan dari segi hasil. Keberhasilan supervisi dari segi hasil dapat dilihat dari perubahan perilaku guru (kemampuan guru dalam menyusun RPP) yang disupervisi. Peningkatan kemampuan guru dalam menyusun RPP pada penelitian ini, apabila RPP yang disusun oleh guru yang menjadi subjek penelitian ini sesuai dengan komponen & prinsip penyusunan RPP menurut Permendiknas No 41 Tahun 2007 serta terjadi perubahan yang lebih baik dalam merumuskan kegiatan pembelajaran yang mencantumkan proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dan instrumen penilaian yang lengkap. Peningkatan kemampuan guru dalam menyusun RPP ini dianalisis secara komparatif berdasarkan hasil penilaian dan umpan balik dari supervisor terhadap RPP yang dihasilkan dalam setiap siklus.

Hasil penilaian dan umpan balik dari supervisor pada praobservasi terhadap RPP IPS dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru IPS dalam menyusun RPP tergolong sedang karena belum mencantumkan proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi pada kegiatan inti serta instrumen penilaian belum lengkap sedangkan RPP mata pelajaran lain dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam menyusun RPP tergolong sedang karena terdapat kesenjangan antara RPP yang dibuat guru dan RPP yang mengacu pada Permendiknas No 41 Tahun 2007 terutama dalam perumusan langkah kegiatan inti yang belum menampilkan proses eksplorasi, elaborasi, serta konfirmasi dan instrumen penilaian yang belum lengkap. Dengan demikian terdapat beberapa permasalahan yang harus diberi tindakan oleh supervisor untuk memperbaiki kinerja guru dalam menyusun RPP.

Tindakan I kemudian dilakukan melalui supervisi klinis dan hasil penilaian serta umpan balik dari supervisor pada siklus I terhadap RPP IPS dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam menyusun RPP tergolong sedang karena telah mencamtumkan proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi serta telah melengkapi instrumen penilaian dan pada RPP dalam langkah-langkah pembelajaran belum menekankan pada kegiatan siswa untuk belajar sedangkan pada RPP mata pelajaran lain dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam menyusun RPP tergolong sedang karena subjek penelitian kebingungan dalam memilih metode pembelajaran yang tepat dan pada RPP dalam langkah-langkah pembelajaran belum menekankan pada kegiatan siswa untuk belajar.

Pada siklus I terdapat beberapa perubahan dalam RPP IPS yakni subjek penelitian telah mencantumkan proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dan melengkapi instrumen penilaian tetapi pada RPP dalam langkah-langkah pembelajaran belum menekankan pada kegiatan siswa untuk belajar, sedangkan pada RPP mata pelajaran lain terdapat beberapa perubahan yakni subjek penelitian telah mencantumkan proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dan melengkapi instrumen penilaian tetapi subjek penelitian kebingungan dalam memilih metode pembelajaran yang tepat dan pada RPP dalam langkah-langkah pembelajaran belum menekankan pada kegiatan siswa untuk belajar, sehingga diperlukan siklus selanjutnya untuk memperbaiki RPP dan menanggulangi permasalahan yang dialami guru dalam menyusun RPP.

Tindakan II kemudian diberikan melalui supervisi klinis dan hasil penilaian serta umpan balik dari supervisor pada siklus II terhadap RPP IPS dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru IPS dalam menyusun RPP tergolong tinggi karena menekankan pada kegiatan siswa untuk belajar pada kegiatan inti, mencantumkan proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, dan melengkapi instrumen.

Hasil penilaian supervisor pada siklus II terhadap RPP subjek penelitian dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam menyusun RPP tergolong tinggi karena subjek penelitian dapat memilih metode yang tepat sesuai situasi dan kondisi siswa dan kelas, mencantumkan proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, dan melengkapi instrumen.

Pada siklus II terdapat beberapa perbaikan dalam RPP IPS yakni subjek penelitian telah mencantumkan proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, melengkapi instrumen penilaian, dan menekankan pada kegiatan siswa untuk belajar pada RPP dalam langkah-langkah pembelajaran, sedangkan pada RPP mata pelajaran lain terdapat beberapa perbaikan yakni subjek penelitian telah mencantumkan proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, melengkapi instrumen penilaian, dan dapat menentukan metode pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa dan kelas.

Kemampuan guru menurut Glickman (dalam Sahertian & Ida A.S, 1990:41-42) dapat diukur dan dinilai jika kita menggunakan suatu model analisis kategori guru. Dalam model ini untuk item kemampuan guru dalam menyusun RPP akan dilihat bagaimana berpikir abstrak subjek penelitian dalam menyusun RPP. Berpikir abstrak dan imajinatif adalah kemampuan untuk memindahkan konsep dan visualisasi, mengidentifikasi, kemampuan untuk menangkap, mengkategorisasikan dan mengumpulkan.

Kemampuan guru baik guru IPS maupun guru mata pelajaran lain dalam menyusun RPP jika dilihat dari model analisis kategori dari segi kemampuan atau berpikir abstrak, tergolong rendah pada saat pra observasi. Hal ini memerlukan supervisi dari kepala sekolah sebagai seorang supervisor. Supervisi klinis yang dilakukan bersifat direktif kolaboratif dengan rapat guru atau pertemuan dalam forum.

Pelaksanaan supervisi klinis pada siklus I meliputi pemberian informasi tentang pentinganya perencanaan dalam pembelajaran, komponen-komponen dari RPP menurut Permendiknas No 41 Tahun 2007, supervisor memberikan hand-out materi pada subjek penelitian, dan diskusi tentang RPP yang disusun oleh subjek penelitian. Hal ini memberikan tambahan pengetahuan bagi subjek penelitian dalam menyusun RPP sesuai dengan Permendiknas No 41 Tahun 2007 kemudian subjek penelitian diberi umpan balik oleh supervisor sebagai penguatan dalam memperbaiki RPP yang telah disusun sebelumnya.

Kemampuan guru baik guru IPS maupun guru mata pelajaran lain pada siklus I dalam menyusun RPP jika dilihat dari model analisis kategori dari segi kemampuan atau berpikir abstrak, tergolong sedang karena dapat memperbaiki kekurangan RPP sesuai dengan umpan balik supervisor tetapi mengalami kebingungan bila memikirkan sesuatu yang bersifat komprehensif yakni kebingungan dalam menentukan metode pembelajaran yang tepat. Masalah yang dialami subjek ini tentu memerlukan supervisi dari supervisor.

Pelaksanaan supervisi klinis pada siklus II meliputi pemaparan dari subjek penelitian tentang permasalahan yang dialaminya saat menyusun RPP, solusi dari subjek penelitian tentang permasalahan tersebut, dan pemberian penguatan terhadap solusi permasalahan dari subjek penelitian. Hal ini memberikan stimulus bagi subjek penelitian dalam mengembangkan kemampuannya dalam berpikir abstrak.

Kemampuan guru baik guru IPS maupun guru mata pelajaran lain pada siklus II dalam menyusun RPP jika dilihat dari model analisis kategori dari segi kemampuan atau berpikir abstrak, tergolong tinggi karena dapat memperbaiki kekurangan RPP sesuai dengan umpan balik supervisor dan dapat memecahkan masalah dalam menyusun RPP dengan berbagai alternatif solusi.

Supervisi klinis merupakan suatu bimbingan dan bantuan yang diberikan kepala sekolah sebagai seorang supervisor terhadap guru dalam satuan pendidikan. Supervisor melalui supervisi klinis memberikan informasi pada guru yang menjadi subjek penelitian serta praktik dalam menyusun RPP sehingga guru dapat menyusun RPP secara maksimal sesuai dengan Permendiknas No 41 Tahun 2007 dan diimplementasikan dalam pelaksanaan pembelajaran. Salah satu guru IPS yang diberi supervisi yakni NS, mencoba untuk mengaplikasikan RPP dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menitikberatkan pada siswa yang belajar serta memakai metode yang inovatif. Guru IPS menerapkan pembelajaran kooperatif tebak kata pada pokok bahasan pengendalian sosial dan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning pada pokok bahasan ketenagakerjaan.

Wahab (2007:49) mengungkapkan bahwa mengajar IPS haruslah membantu dan mendorong siswa untuk berpikir karena untuk berpikir para siswa harus dihadapkan pada permasalahan yang dekat lingkungan dan kebutuhannya baik untuk sekarang maupun yang akan datang sehingga guru IPS diharuskan untuk mengembangkan pembelajaran berpikir dalam pembelajaran IPS.  Pengembangan pembelajaran berpikir dalam pembelajaran IPS ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan Pasandaran (2003:579) dapat disimpulkan bahwa tugas guru adalah menata proses pembelajaran sehingga memungkinkan siswa belajar bagaimana berpikir. kemampuan berpikir siswa dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya peningkatan kemampuan berpikir dan model pembelajaran berpikir dalam IPS yang dikembangkan mensyaratkan asumsi-asumsi, prinsip-prinsip, pendekatan, strategi pembelajaran, perangkat pembelajaran, dan kuatnya sistem pendukung.

Siswa yang belajar dengan mengikuti langkah-langkah dari pembelajaran kooperatif tebak kata akan membuat pengetahuannya bertambah dan kritis terhadap sesuatu hal. Ketika siswa membaca materi berarti dia sedang menggali pengetahuan, kemudian ketika siswa membuat kartu arahan dalam kelompok berarti dia sedang belajar bekerja sama untuk membuat kartu dan belajar dipimpin serta memimpin teman-temannya, dan ketika mengarahkan kelompok lain untuk menebak kata di depan kelas berarti siswa sedang belajar berbicara di depan umum dan membimbing kelompok lain untuk memecahkan masalah.

Sedangkan, siswa yang belajar dengan mengikuti langkah-langkah dari model pembelajaran problem based learning akan membuat kemampuan berpikir dalam memecahkan masalah meningkat. Saat siswa diberi permasalahan maka dia akan berpikir bagaimana menyelesaikannya, jika dengan logika tidak sanggup pasti yang dilakukan adalah membuka buku dan disanalah dia mendapatkan penyelesaiannya. Ketika siswa membaca buku berarti dia mencoba untuk mengidentifikasi masalah dan mencoba untuk memcahkan masalah dengan berbagai jawaban melalui penyelidikan tentunya. Ketika siswa menyajikan penyelidikannya berarti siswa tersebut belajar bagaimana berbicara di depan umum dalam menyajikan buah pikirannya.

Peneliti mengamati bahwa guru memiliki kemampuan sangat baik & dengan gaya yang sangat menarik saat menyampaikan informasi, konsentasi & perhatian dari peserta didik sangat baik saat memperhatikan informasi dari guru, peserta didik aktif berdiskusi dalam kelompok tentang penulisan konsep dan arahan untuk konsep tersebut, peserta didik bekerja sama dengan baik dalam kelompok untuk menebak konsep dari kelompok lain, dan suasana yang terbangun dalam tindakan penuh dengan kerjasama diantara siswa.

Guru IPS (NS) mencoba memberikan informasi pada guru IPS lain tentang pembelajaran terutama pada pemilihan metode yang tepat dalam pembelajaran. Hal ini dilakukan agar proses pembelajaran IPS dapat berjalan dengan optimal. Pembelajaran yang maksimal tentu menjadi idaman sehingga membuat Guru IPS lain sering bertanya atau berdiskusi tentang bagaimana memilih metode penelitian yang tepat pada pembelajaran tetapi guru IPS lain menganggap guru IPS yang disupervisi merupakan guru yang tidak akan memberikan informasi jika tidak diberi pertanyaan.

Penyampaian informasi yang dilakukan guru IPS jika ada pertanyaan menggambarkan bagaimana budaya atau kebiasaan yang ada di satuan pendidikan tersebut. Budaya pemberian informasi dianggap sombong karena memberikan informasi tanpa diminta dan cenderung menganggap dirinya mengetahui segala hal. Sikap yang seperti ini biasanya tidak begitu disukai rekan guru yang lain.

 

Penutup

Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa (1) kemampuan awal guru dalam menyusun RPP tergolong rendah karena guru kebingungan dalam merumuskan RPP karena mata pelajaran yang diajarkan berbeda dengan latar belakang yang dimiliki dan tidak memiliki inisiatif dalam menyusun RPP karena hanya copy-paste dari MGMP; (2) penerapan supervisi klinis untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun RPP terbagi menjadi dua siklus dalam setiap siklus melalui tiga tahap yakni tahap pendahuluan, observasi, dan umpan balik. Penerapan supervisi klinis ini dapat dikatakan berhasil karena ketiga tahap dalam setiap siklus berjalan lancar; (3) penerapan supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun RPP. Hal ini dapat dilihat dari perubahan ke arah yang lebih baik dari subjek penelitian dalam menyusun RPP. Pada prasiklus kemampuan guru dalam menyusun RPP tergolong rendah karena guru kebingungan dalam merumuskan RPP karena mata pelajaran yang diajarkan berbeda dengan latar belakang yang dimiliki dan tidak memiliki inisiatif dalam menyusun RPP karena hanya copy-paste dari MGMP. Pada siklus I kemampuan guru dalam menyusun RPP tergolong sedang karena subjek penelitian kebingungan dalam memilih metode pembelajaran yang tepat dan pada RPP dalam langkah-langkah pembelajaran belum menekankan pada kegiatan siswa untuk belajar. Pada siklus II kemampuan guru dalam menyusun RPP tergolong tinggi karena dapat memperbaiki kekurangan RPP sesuai dengan umpan balik supervisor yakni telah mencantumkan proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi pada kegiatan inti, mencantumkan instrumen secara lengkap, serta menentukan metode dengan tepat dan dapat memecahkan masalah dalam menyusun RPP dengan berbagai alternatif solusi; dan (4) implikasi pelaksanaan supervisi klinis pada pembelajaran IPS, guru mulai menerapkan pembelajaran inovatif bukan hanya bertumpu pada ceramah tetapi juga siswa mulai dikembangkan untuk mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri. Dari hasil analisis data didapatkan bukti bahwa penerapan supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun RPP.

Berdasarkan penelitian ini, maka ada beberapa saran yaitu: Kepala sekolah di sekolah lain hendaknya menggunakan supervisi klinis dalam menanggulangi permasalahan yang mendesak dalam satuan pendidikan. Supervisi klinis merupakan pendekatan yang cocok digunakan kepala sekolah dalam melakukan supervisi pembelajaran melalui tiga tahap yang dimaksudkan untuk memperbaiki kinerja guru dalam pembelajaran.

 

 

 DAFTAR RUJUKAN

Aqib, Z. 2009. Penelitian Tindakan Sekolah. Bandung: CV Yrama Widya

Burhanuddin, dkk. 2007. Supervisi Pendidikan Dan Pengajaran: Konsep, Pendekatan, Dan Penerapan Pembinaan Profesional. Malang: FIP UM

Maisyaroh. 2001. Supervisi Klinis: Salah Satu Pendekatan Dalam Pelaksanaan Supervisi Pengajaran. Malang: FIP UM

Mulyasa, E. 2009. Penelitian Tindakan Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Muslim, SB. 2009. Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas Profesionalisme Guru. Bandung: CV Alfabeta

La Sulo, SL. 1984. Pendekatan & Teknik-Teknik Supervisi Klinis. Jakarta: Depdikbud

Pasandaran, S. 2003. Pengembangan Pembelajaran Berpikir Dalam Pengajaran IPS. Jurnal IPS & Pengajarannya, 37 (3): 563-581

Sagala, S. 2010. Supervisi Pembelajaran Dalam Profesi Pendidikan. Bandung: CV Alfabeta

Sahertian, Piet A. & Ida A. Sahertian. 1990. Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Program In service Education. Jakarta: PT Rineka Cipta

Sudarman. 2005. Peranan Kepala Sekolah Dalam Melaksanakan Supervisi Klinis di SMPN Negeri 1 Kunir Kabupaten Lumajang. Tesis Tidak Diterbitkan. Malang PPS UM

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung: CV Alfabeta

Wahab, AA. 2007. Metode & Model-Model Mengajar IPS. Bandung: CV Alfabeta


[1] Penelitian ini dilakukan di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Blitar

[2] Penulis merupakan alumnus jurusan Sejarah, FIS UM dan mahasiswa Sastra Inggris, angkatan 2009 FIB UB.

Category: Jurnal FIS, Jurnal FIS Edisi Agustus 2011

About the Author ()

Leave a Reply