Seluruh Mahasiswa FIS UM wajib memperbarui nomor HP yang aktif dan NIK (Nomor Induk Kependudukan) pada profil SIAKAD dan memeriksa kebenaran data pada http://forlap.ristekdikti.go.id/ DEMI MASA DEPAN ANDA

Rabun Membaca Lumpuh Menulis, Benarkah ?

| April 17, 2011 | 0 Comments

Oleh: F. X. Domini B. B. Hera

(sudah dipublikasikan di KOMUNIKASI edisi Maret 2011)

Judul di atas terinspirasi hasil perenungan Sastrawan terkemuka Indonesia, Taufik Ismail yang merefleksikan minimnya budaya baca dan tulis di Indonesia. Penyakit tersebut menyeruak hebat dengan data UNESCO pada tahun 1972 yang mengindikasikan di Indonesia terjadi wabah “kelaparan buku”. Alhasil krisis penulis beserta karya-karyanya terjadi. Di saat itulah, Taufik Ismail, pasca Manikebu (Manifesto Kebudayaan) versus LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) berselisih, melahirkan gerakan “Sastrawan Masuk Sekolah” yang didukung dengan penerbitan Majalah Horison bagi siswa-siswi di tingkat SMP dan SMA. Untuk tingkat Malang, sastrawan yang menonjol melakukan kegiatan serupa ialah Penulis kenamaan Ratna Indraswari Ibrahim, meski Beliau masih dalam tahap penyembuhan sehabis menderita stroke selama beberapa bulan belakangan ini.

Menarik pula disimak amaran Pramoedya Ananta Toer, “Manusia boleh pintar setinggi langit namun jika ia tidak bisa menulis, maka ia akan hilang dari sejarah“. Tampak
Pram begitu memahami sejarah hingga menjadikan sejarah sebagai setting dari sekian banyak karya novel-novelnya. Sejarah sendiri ialah suatu  periodesasi yang dapat diklasifikasikan kala manusia dapat meninggalkan tulisan sebagai warisan. Berbeda dengan Prasejarah di mana manusia belum mengenal aksara.

Dewasa ini, menulis belum dipandang sebagai suatu kebutuhan mutlak, termasuk bagi mahasiswa. Padahal, senjata mahasiswa ialah pena dan secarik kertas. Senada dengan perkataan Napoleon Bonaparte bahwa lebih tajam pena dibandingkan pedang. Harus diakui, generasi mahasiswa Onghokham dan Soe Hok Gie semakin sulit dicari. Di mana generasi yang senantiasa menuangkan ide dan ekspresi dirinya melalui tulisan. Teringat akan romantisme masa lalu bahwa founding fathers kita menggunakan tulisan sebagai media berpolemik, hingga berperang wacana (Dialektika). Semisal contoh, polemik perbedaan pemikiran diaktualisasikan melalui tulisan antara Soekarno dan Haji Agus Salim, maupun artikel kontroversial yang mampu membakar jenggot Pemerintah Kolonial kala merayakan Ulang Tahun Ratu Wilhelmina yang dilancarkan oleh seorang pemuda bernama Soewardi Soerjaningrat (sekarang dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara) dengan judul: Als ik Nederlanders was (Jika saya seorang Belanda) yang dimuat di harian Lokomotif, Semarang.

Kekritisan pemuda (baca: mahasiswa) sebagai kekuatan penggerak Civil Society dapat disalurkan melalui media tulisan, jika dibandingkan dengan demonstrasi (aksi turun ke jalan) yang semakin jauh dari nilai-nilai demokrasi itu sendiri. Stereotip mahasiswa dan demonstrasi, yang keduanya dipandang negatif oleh masyarakat. Tengok sepintas, demonstrasi damai sekalipun di jalanan tentu merugikan pengguna jalan yang lain. Apalagi demonstrasi yang berujung anarkis. Lebih cocok disebut dengan mobokrasi dibandingkan demokrasi. Sudah saatnya demonstrasi pada era ini ditinjau ulang dari aspek efisiensi dan efektifitas pergerakan mahasiswa. Menjadi tantangan bagi mahasiswa di era neo kolonialisme ini menurut konsep Johan Galtung, bahwa penjajahan bersifat ke arah kultural, teknologi informasi, dan ilmu pengetahuan, di mana penjajahan tipe ini semakin terlihat kabur namun dahsyat mematikan.

Solusi konkret dari involusi intelektual dalam bidang akademis dan jurnalistik kemahasiswaan ialah dimulai dengan banyaknya membaca, berdiskusi, dan berani menuangkannya dalam bentuk tulisan. Modal utama menulis ialah pengetahuan yang diperoleh dari membaca. Dari sanalah inspirasi muncul secara otomatis untuk kemudian ditulis. Banyaknya mahasiswa kini yang lebih berorientasi pada gaya hidup hedonisme dan mematikan jalannya kekritisan serta kreativitas di bidang penulisan. Sebab jika keadaan budaya baca-tulis tetap seperti ini, biarlah waktu yang membuktikan bahwa amaran Taufik Ismail isapan jempol belaka ataukah fakta realita. Penulis berharap pembaca sekalian bukan tipe mahasiswa yang menderita penyakit rabun membaca dan lumpuh menulis. Semoga.

Category: Karya Tulis Mahasiswa

About the Author ()

Leave a Reply