Sejak ada perubahan dari IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) menjadi UM (Universitas Negeri Malang) pada 1999 lalu, UM makin dikenal luas masyarakat. Namun, di balik kebesaran UM tersebut barangkali baru segilintir orang yang tahu siapa pembuat logo UM itu.
Penampilannya gaul dan sedikit nyentrik. Dalam setiap kali bicara memberikan kesan santai dengan intonasi datar. Berbincang tak membuat jengah karena sesekali diselipkan nada guyonan. Ditambah lagi wawasannya luas dari displin ilmu yang digeluti, mulai ekonomi, seni, sampai lingkungan.
Begitu gambaran sosok Prof Wahyoedi, pencipta logo UM yang dipakai saat ini. Pria yang baru saja mengakhiri masa duda tersebut sebagai salah satu pemenang sayembara logo UM pada 21 Juni 1999 lalu. Ketika itu merupakan masa menyongsong perubahan IKIP menjadi UM. Berbagai persiapan dilakukan, di antaranya pembuatan logo sampai akhirnya turun Kepres RI No 93/1999 era presiden B.J. Habibie tentang perubahan IKIP menjadi universitas.
Turunnya SK UM sekaligus menandai perubahan nama bersama lima IKIP di seluruh Indonesia menjadi universitas. Yakni, IKIP Jogyakarta, Surabaya, Ujung Pandang, Jakarta, dan Padang. “Seingat saya, pesertanya sayembara ada 62 orang. Ya, dari internal UM dan umum. Saya menyetorkan tiga karya, tapi akhirnya satu yang dinilai layak juara,” katanya santai.
Begitu pengumuman pemenang lomba, dalam benak Yoedi -begitu dia biasa disapa- sebenarnya sempat tebersit keinginan untuk bertanya. Karena karyanya hanya dinobatkan menjadi juara II. Tetapi anehnya karyanya dipatenkan sebagai logo UM. “Tapi, sudahlah jangan membahas itu,” ucapnya. Meski begitu, kekecewaannya terhadap panitia sayembara tak bisa disembunyikan.
Buru-buru pria yang kini menjabat Asisten Direktur Program Pascasarjana UM ini mengajak Radar memeloti beberapa kertas ukuran A4 bekas coretan saat proses pembuatan logo. Ditemui di rumahnya, Jl Sulfat Indah II, Yoedi mengeluarkan kertas-kertas itu dari map yang masih disimpan rapi. Masih ada satu kertas yang di atasnya sudah tergambar logo UM.
Dia lantas menunjukkan logo UM yang sudah jadi tersebut. Berbentuk lingkaran yang di dalamnya merupakan kolaborasi lingkungan berupa pohon kalpataru, bintang, dan simbol UM berwarna kuning. Setiap bagian di samping logo tersebut ditulis maknanya. Dimulai dari bentuk lingkaran yang melambangkan perkembangan global.
Selanjutnya dia menunjukan gambar pohon kalpataru berwarna hijau yang dimaknai sebagai pohon kehidupan.
Melalui simbol ini, Yoedi yang merupakan pencinta lingkungan itu ingin mengajak kepada masyarakat agar terus menghargai lingkungan. “Alam sumber kehidupan. Saya prihatin saja, perkembangan Iptek yang dalam perkembangannya cenderung mengabaikan kelestarian lingkungan,” ungkap pengoleksi benda-benda antik ini.
Malah dia menilai, pemanfaatkan teknologi lebih cepat merusak alam dari pada teknologi yang bisa melestarikan alam. Ini yang menurutnya perlu diwaspadai. Garis besarnya, kekayaan hutan boleh dimanfaatkan tapi jangan tetap perlu dijaga kelestariannya. “Tak usah jauh-jauh, di Kota Malang ini banyak fenomena alih tanaman menjadi hutan-hutan tembok (bangunan),” tambahnya.
Lukisan lain, lengkung hijau menyerupai kaki, melambangkan kelangsungan kelembagaan IKIP menjadi UM. Bintang warna kuning merupakan simbol Pancasila sebagai filsafat bangsa dan negara. Dan, simbolik UM berwarna kuning yang dilukiskan berupa empat garis vertikal. Maknanya, empat orientasi nilai keilmuan yang universitas, nilai kebangsaan, nilai kemanusiaan, dan nilai kebudayaan dalam memujudkan visi, misi dan fungsi UM.
Bagian kuncup bunga warna kuning terdiri tiga bagian dalam pelukan pohon kalpataru melambangkan tiga makna. Bagian kuncup yang mengarah ke atas melambangkan pendidikan generasi. Bagian kuncup sebelah kanan dan kiri melambangkan dua program studi, yakni kependidikan dan non-kependidikan. Ketiga, bagian kuncup sebagai simbol tridarma perguruan tinggi. “Lambang UM yang saya buat itu dominasinya gambar simbol-simbol lingkungan. Saat itu saya memang sedang menekuni tentang lingkungan. Di samping saya bagian orang yang peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.
Kecintaannya terhadap lingkungan juga dibuktikan melalui jalur pendidikan formal. Jenjang S2 dan S3 dosen fakultas ekonomi UM ini mengambil bidang pendidikan kependudukan dan lingkungan di IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta) dan UI (Universitas Indonesia).
“Saya butuh waktu sekitar empat bulan untuk menyelesaikan lambang sebelum saya ikutkan sayembara. Pemikiran saya ikut sayembara, saya ingin memberikan sesuatu yang berharga pada masa momentum pada perubahan IKIP menjadi UM,” kata suami Idayu Astuti, tersebut.
Setelah melalui serangkaian tahapan hingga akhirnya lambang tersebut digunakan UM, hanya sedikit bagian yang mengalami perubahan. Tulisan Universitas Negeri Malang yang dibuat melingkar dan simbolik tulisan UM yang dilukiskan berupa empat garis vertikal. “Hanya secara esensi tidak keluar dari makna yang ingin saya sampaikan. Jadi, tidak masalah,” ungkapnya.
Di balik pembuatan logo tersebut, sebenarnya ada keinginan besar yang disimpan penyandang dosen teladan 1991 lalu itu. Ke depan, dalam pembangunan fisik kampus agar tidak sampai mengabaikan tata lingkungan. Harus ada kompensasi penataan lingkungan secara berimbang. “Jangan sampai hanya membangun fisik. Penataan gedung dan taman harus berimbang,” ujarnya.
Karena kecintaan terhadap lingkungan, ayah empat orang anak ini pernah melewati dengan kisah yang dianggap menyedihkan. Ingatannya sampai pada suatu masa. Pernah suatu ketika UM membangun gedung, namun ada tanaman langka yang harus dikorbankan. “Saya sempat menangis saat pembahasan dalam rapat senat,” kenangnya.
Yoedi terus memupuk kepedulian terhadap lingkungan. Salah satunya keberhasilan mengusulkan ide pembangunan kompleks pascasarjana dengan konsep lebih hijau akan direalisasikan 2009 ini. “Intinya di gedung H1, H2, dan H3 akan ada penghijauan. Taman-taman akan ditata sedemikian rupa, sehingga akan menjelma menjadi kampus berwawasan lingkungan. Mahasiswa pun nyaman belajar,” katanya.
