ZONASI KENYAMANAN HIDUP BERDASARKAN PARAMETER METEOROLOGIS DI WILAYAH KOTA SURABAYA

Dwiyono Hari Utomo

Jurusan Goegrafi, Fakultas Ilmu Sosial UM, Jl. Semarang 5 Malang

Abstrak: Ketidaknyamanan hidup manusia dapat ditandai dengan suhu dan kelembapan yang tinggi. Suhu dan kelembapan yang tinggi umumnya terjadi di kota-kota berdekatan dengan laut, seperti di Surabaya. Penelitian ini dalam jangka panjang bertujuan untuk menghasilkan model pengelolaan lingkungan berskala mikro yang dapat menciptakan iklim mikro yang nyaman bagi kehidupan manusia. Target khususnya adalah (1) mendeskripsikan perubahan suhu dan kelembapan; (2) menentukan indeks kenyamanan hidup wilayah; (3) menentukan zonasi kenyamanan hidup. Penelitian ini menggunakan survey pada setiap titik sampel. Sampel ditentukan berdasarkan grid pada peta dengan luas grid 25 km2 dan titik sampel ditentukan pada titik perpotongan diagonal grid. Jumlah sampel di wilayah Surabaya sebanyak 19 titik. Pengukuran suhu dan kelembapan dilakukan secara serentak di setiap titik sampel pada jam yang sama, dan jumlah jam pengamatan setiap 1 jam dimulai jam 06.00 sampai jam 18.00. Waktu penelitian dipilih pada saat aphelion (awal Juli) dimana suhu bumi secara global mengalami penurunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Variasi suhu udara rata-rata 30,02oC, kelembapan relatif 62,25% dan indeks kenyamanan hidup 81,50 (tidak nyaman); (2) Pulau bahang terjadi di daerah Rungkut (Surabaya); (3) Zonasi kenyamanan hidup di wilayah Surabaya secara umum tergolong tidak nyaman yang melebar mulai dari Benowo-Randu Padangan-Osowilangun-Manukan Tama Sukomanunggal; dan secara sporadis di daerah Kenjeran, Kec. Bulak dan Tenggilis Lama, sedangkan daerah yang lebih nyaman di daerah Karangmenjangan. Oleh sebab perlu penataan ruang kota dengan memperhatikan parameter meteorologis.

Kata kunci: kenyamanan hidup, parameter meteorologis.

Artikel dimuat di Jurnal Pendidikan Geografi, Tahun 13 Nomor 1, Januari 2009, ISSN 0853-9251