Program Studi Ilmu Komunikasi menggelar untuk kedua kalinya Public Lecture Series. Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, kali ini sebagai pemateri hadir langsung Assoc. Prof. Nik Norma Nik Hasan, Ph.D. salah satu dosen dari School of Communication, dari Universiti Sains Malaysia memberikan pengajaran di Universitas Negeri Malang (UM). Acara ini dilaksanakan pada Selasa, 21 Mei 2024 di gedung Aula Ki Hadjar Dewantara Fakultas Ilmu Sosial.
Prof. Nik Hasan membahas isu lingkungan, khususnya mengenai kabut asap yang masih menjadi masalah di Indonesia dan Malaysia. Dengan mengangkat topik “Borderless Haze & Youth: A Snippet of Malaysia”, kuliah ini menjadi bagian dari mata kuliah isu kontemporer komunikasi. Kegiatan ini bertujuan memperluas wawasan pengetahuan lintas negara mengenai isu-isu kontemporer, seperti isu lingkungan, kepada para mahasiswa Ilmu Komunikasi UM.

Sebelum memulai pembahasan, Prof. Nik memberikan apresiasi kepada beberapa mahasiswa yang telah aktif dalam sesi Public Lecture Series sebelumnya yang telah dilaksanakan dua pekan lalu. “Saya merasa sangat senang bisa bertemu langsung dengan adik-adik semua. Dan saya mencoba untuk menjelaskan dengan Bahasa Indonesia sedikit-dikit,” ujar Prof. Nik dalam sambutan hangatnya kepada mahasiswa Ilmu Komunikasi UM.
Terkait isu lingkungan yang diangkat, masalah kabut asap memang masih menjadi pekerjaan rumah bagi kedua negara. Kabut asap, yang merupakan polutan hasil aktivitas manusia, memberikan dampak signifikan yang mengganggu kesehatan, kegiatan ekonomi, dan lingkungan hidup. Namun dalam penjelasan Prof Nik, dalam kasus nya dalam 2015 kabut asap terindikasi di tujuh negara Asean dimana wilayah yang sangat buruk terdampak antara lain Thailand Selatan, Vietnam, Kamboja, Brunei, Indonesia, Malaysia dan Indonesia.
“Dalam sejarah kabut asap di Malaysia mulai terasa keruh bermula pada 1994, Juga ditambah beberapa fenomena El Nino memperburuk keadaan. Cukup mengerikan ketika pada tahun 2017 dan 2019 dimana berdasarkan Air Pollution Index mencapai 500 yang tentunya sudah sangat berbahaya” penjelasan Prof Nik terkait kabut asap di Malaysia. Selain itu persoalan di Indonesia, Jakarta dan kebakaran hutan di sejumlah wilayah di Indonesia juga menjadi topik pembahasan.
Dengan keilmuan sebagai kajian Ilmu Komunikasi dan upaya preventif pencegahan, kabut asap ternyata dapat diatasi melalui kajian jurnalistik, di mana retorika berita kabut asap menjadi seni dalam persuasi. “Dengan memperhatikan ethos, yaitu kredibilitas sumber berita, serta pathos, yang bekerja dalam membentuk kepercayaan dan menghadirkan elemen human interest,” kata Prof. Nik dalam membahas upaya pencegahan.
New Social Movement juga ditekankan melalui gerakan pemuda, baik melalui media sosial maupun aksi langsung untuk mengurangi permasalahan kabut asap. Secara implementasi, Prof. Nik mengajak seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk belajar melalui praktik interaktif dengan menyelesaikan sebuah studi kasus menggunakan konsep design thinking dan visualisasi gambar ilustrasi sebagai bentuk pesan resolusi. Sehingga, Public Lecture Series bersama Prof. Nik menjadi bentuk aksi nyata dalam upaya meningkatkan kesadaran dan wawasan terkait isu lingkungan, khususnya kabut asap.
Pewarta : Afgian Gala Mahiya Ikhsan
