Kota Malang – Dalam rangka meningkatkan literasi kebencanaan dan kesadaran perubahan iklim di kalangan pelajar, tim peneliti dari Universitas Negeri Malang mengembangkan Geoinformation Web-App Technology berbasis platform Google Earth Engine (GEE). Inovasi ini diterapkan secara langsung melalui kegiatan edukatif yang dilaksanakan pada tanggal 7 dan 8 Mei 2025 di tiga sekolah menengah atas di Banyuwangi, Tulungagung, dan Kediri, yakni SMA Negeri 1 Wongsorejo, SMA Negeri 1 Grogol, dan SMA Negeri 1 Karangrejo.
Aplikasi yang dikembangkan ini dirancang untuk memvisualisasikan data spasial secara interaktif, seperti peta kerawanan bencana banjir dan tanah longsor, indikator perubahan tutupan lahan, vegetasi (NDVI), hingga tren curah hujan. Dengan berbasis Google Earth Engine, siswa dapat langsung mengakses informasi geospasial yang bersumber dari data satelit resolusi tinggi dan analisis berbasis cloud computing.
Selama pelaksanaan kegiatan, siswa diajak untuk melakukan eksplorasi mandiri terhadap kondisi kerentanan wilayah mereka masing-masing dengan menggunakan aplikasi web yang telah dikembangkan. Mereka dapat melihat secara langsung zona risiko bencana di sekitarnya, memahami faktor-faktor penyebabnya, serta merancang strategi mitigasi dan adaptasi berbasis data. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap pentingnya pengelolaan risiko bencana yang berbasis sains dan teknologi.
Sementara itu, siswa menyatakan bahwa pengalaman ini menjadi pembelajaran yang menyenangkan dan membuka wawasan mereka terhadap realitas perubahan iklim yang terjadi di daerah mereka sendiri. Aplikasi yang user-friendly dan berbasis bukti ilmiah ini sangat membantu dalam memahami konsep mitigasi dan adaptasi secara kontekstual.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan pembelajaran kebencanaan yang transformatif dan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 11 (kota dan komunitas berkelanjutan) dan poin 13 (penanganan perubahan iklim). Inisiatif ini diharapkan dapat terus dikembangkan dan direplikasi di wilayah rawan bencana lainnya, serta diintegrasikan dalam kurikulum pembelajaran geografi dan sains lingkungan di sekolah-sekolah Indonesia.
