Dalam upaya memperkuat literasi kebencanaan sejak dini di wilayah rawan bencana, Universitas Negeri Malang (UM) melalui program pengabdian melaksanakan edukasi kebencanaan berbasis teknologi Virtual Reality (VR) di SDN 3 Jambewangi, Banyuwangi. Kegiatan yang dilaksanakan oleh tim pengabdian dari Departemen Geografi, Fakultas Ilmu Sosial UM ini menghadirkan pendekatan inovatif melalui Virtual Disaster Simulation yang dirancang khusus untuk siswa sekolah dasar.
Program ini diawali dengan kegiatan sosialisasi materi dasar kebencanaan yang mencakup pengenalan terhadap konsep bencana, serta langkah-langkah mitigasi bencana. Materi disampaikan melalui media visual dan naratif yang disesuaikan dengan karakteristik siswa usia dini.
Selanjutnya, siswa diajak mengikuti simulasi kebencanaan secara virtual dengan menggunakan perangkat VR. Melalui teknologi ini, siswa dapat mengalami situasi bencana letusan gunung api secara interaktif tanpa menghadapi risiko nyata. Dalam simulasi ini, siswa belajar merespons kondisi darurat, mengenali tanda-tanda bahaya, serta melakukan evakuasi sesuai prosedur yang benar.

Sebagai bentuk penguatan infrastruktur kesiapsiagaan, tim pengabdian juga menyerahkan dan memasang rambu jalur evakuasi serta titik kumpul di lingkungan sekolah. Jalur ini ditandai dengan papan petunjuk visual yang mudah dipahami dan berfungsi sebagai panduan saat terjadi bencana. Guru-guru dilibatkan secara langsung dalam simulasi ini agar mampu melanjutkan pembelajaran kebencanaan secara mandiri di kelas.
Kegiatan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan literasi bencana siswa, tetapi juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin 4 (Pendidikan Berkualitas) dan poin 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan). Dengan membekali siswa dengan keterampilan mitigasi bencana sejak dini, program ini berkontribusi pada terbentuknya komunitas yang lebih tangguh dan sadar akan risiko kebencanaan.
Universitas Negeri Malang berharap program ini dapat menjadi model pengembangan edukasi kebencanaan berbasis teknologi yang dapat direplikasi di sekolah-sekolah lain, terutama di daerah rawan bencana di seluruh Indonesia.
