KORBAN SEMBURAN LUMPUR LAPINDO SIDOARJO (ANALISIS SOSIAL KEMASYARAKATAN DAN KELEMBAGAAN)

GM. Soekamto DN.

Jurusan Sejarah, FIS Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang 5 Malang

Abstrak: Semburan lumpur itu sendiri adalah satu masalah, terlebih lagi karena luapan semburan lumpur itu menenggelamkan rumah pekarangan, sawah, ladang dan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Lumpur tidak pandang bulu apakah sesuatu itu milik pribadi, milik sosial, milik kolektif, milik publik atau milik Negara. Korban paling menderita adalah manusia, namun hal-hal lain misalnya lembaga, fasilitas-fasilitas publik, fasilitas keagamaan pun menjadi korban. Lumpur lapindo telah memporakporandakan hidup rakyat dan masa depannya terutama bagi putra dan putrinya. Penderitaan korban lumpur berbeda dengan korban gempa bumi Yogyakarta misalnya sebab bagi korban gempa masih ada harapan untuk kembali dan membangun rumah lagi di atas tanah miliknya, dan hal ini tidak dapat dilakukan oleh korban lumpur. Keguyubrukunan yang dahulu dirasakan kini telah sirna, kebanggaan akan tempat tinggal, desa dan sanak kerabatnya tetangga berlalu begitu saja. Sistem sosial kemasyarakatan dan kelembagaan yang dahulu menjadi pilar kokoh tegaknya keteraturan masyarakat (social order) hilang lenyap.

Kata kunci: penderitaan, korban lumpur lapindo, infrastruktur dan suprastruktur.

Artikel ini dimuat pada Jurnal Sejarah dan Budaya, Tahun Kesatu Nomor 1, Juni 2008, ISSN 0853-8441