Jejak Kekuasaan di Malang: Dari Simbol Kolonial ke Dominasi Militer, Penelitian FIS UM Ungkap Perubahan Identitas Kota Malang

Malang – Kota Malang, kota yang kini dikenal sebagai kota pendidikan dan pariwisata  menyimpan jejak panjang salah satunya perubahan simbol perkotaan yang mencerminkan pergantian kekuasaan dari era kolonial hingga reformasi. Monumen, patung, dan nama jalan bukan sekadar tanda pengenal kota, tetapi juga alat yang digunakan untuk menegaskan dominasi politik dari berbagai rezim.

Penelitian dari Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang (FIS UM) yang dilakukan oleh Dr. R. Reza Hudiyanto, S.S, M.Hum. dalam karyanya berjudul From Plantation to Military State: The Changing of Urban Symbol of Malang from 1923 to 2000, yang diterbitkan pada tahun 2014, mengungkap bagaimana perubahan simbol perkotaan di Malang mencerminkan peralihan kekuasaan. Sejak era kolonial Belanda, kota Malang dirancang dengan model tata ruang khas Eropa, lengkap dengan patung tokoh kolonial dan nama jalan yang diambil dari para gubernur jenderal serta bangsawan Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, lanskap simbolik kota mengalami perubahan signifikan. Monumen yang mencerminkan dominasi kolonial mulai digantikan dengan simbol perjuangan nasional. Salah satu perubahan signifikan adalah pendirian Monumen Tugu Malang pada tahun 1953, yang melambangkan perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajahan. Bentuknya yang menyerupai enam bambu runcing menggambarkan semangat revolusi, sementara relief di bagian bawahnya menampilkan peta Indonesia beserta figur proklamator Soekarno dan Mohammad Hatta. 

Pada era Orde Baru, dominasi militer semakin terlihat melalui pendirian berbagai monumen pahlawan di titik-titik strategis kota. Monumen Hamid Rusdi mengenang komandan Divisi Surapati dalam Perang Kemerdekaan, sedangkan Monumen TRIP memperingati perjuangan pasukan pelajar melawan Belanda pada 1947. Selain itu, perubahan nama jalan turut mencerminkan supremasi militer. Jalan yang sebelumnya bernuansa lokal diubah menjadi nama tokoh angkatan bersenjata, seperti Jalan Brigjen Katamso dan Jalan Jenderal Sudirman. 

Transformasi simbol perkotaan ini menunjukkan bagaimana penguasa menggunakan ruang publik untuk memperkuat legitimasi mereka. Penelitian ini mengungkap bahwa pada masa Orde Baru, hampir semua sudut kota dihiasi dengan monumen yang menegaskan pengaruh militer dalam kehidupan sipil. 

Memasuki era reformasi, simbol kota mulai mengalami pergeseran. Salah satu perubahan mencolok adalah pendirian Monumen Singo Edan di depan Stasiun Malang pada 2014. Tidak lagi melambangkan kekuatan militer, monumen ini merepresentasikan identitas masyarakat Malang melalui klub sepak bola Arema. Hal ini menjadi babak baru di mana simbol kota lebih mencerminkan budaya lokal dibandingkan alat propaganda politik. 

Penelitian dari FIS UM ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs 4: Pendidikan Berkualitas dan SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan. Studi ini menunjukkan bagaimana simbol kota dapat menjadi alat edukasi sejarah yang membantu masyarakat memahami perubahan sosial dan politik yang terjadi di sekitarnya

Penulis: Moch. Reyhan Arif