Malang – September 25, 2025 Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Malang menggelar kuliah tamu istimewa pada Kamis, 25 September 2025, menghadirkan narasumber internasional, Dr. Amitava Bandopadhyay, Chief Scientist sekaligus Head of International Science & Technology Affairs Directorate pada Council of Scientific and Industrial Research (CSIR), New Delhi, India. Tokoh sains yang telah berpengalaman dalam kerja sama riset lintas negara di kawasan Asia Selatan ini memaparkan bagaimana komunikasi memainkan peran strategis dalam pembangunan berkelanjutan, termasuk kontribusinya terhadap agenda Sustainable Development Goals (SDGs).
Acara yang berlangsung di Aula Fakultas Ilmu Sosial UM ini dihadiri ratusan mahasiswa, dosen, serta praktisi komunikasi. Kuliah tamu bertema “Science, Technology, and Strategic Communication for Sustainable Development” ini sekaligus menjadi bagian dari upaya FIS UM memperkuat kontribusi pada SDGs 11 (Sustainable Cities and Communities) dan SDGs 16 (Peace, Justice and Strong Institutions).
Dalam pemaparannya, Dr. Bandopadhyay menekankan bahwa komunikasi publik adalah unsur krusial dalam memastikan inovasi dan pengetahuan ilmiah dapat diterjemahkan menjadi kebijakan, program, dan perilaku masyarakat yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan.
“Ilmu pengetahuan tidak pernah berdiri sendiri. Nilainya dirasakan masyarakat ketika kita mampu menyampaikan manfaatnya dengan bahasa yang dipahami publik. Di titik itulah komunikasi menjadi jembatan,” ujar Dr. Bandopadhyay saat diwawancarai seusai sesi kuliah tamu.
Beliau menjelaskan sejumlah contoh konkret dari pengalaman CSIR dalam memfasilitasi riset dan implementasi teknologi di India maupun kawasan Asia Selatan, khususnya melalui kerja sama regional di bawah kerangka South Asian Association for Regional Cooperation (SAARC).
Salah satu proyek yang ia soroti adalah pengembangan teknologi penyediaan arsenic-free drinking water di wilayah pedesaan. Teknologi tersebut tidak hanya dihasilkan melalui riset laboratorium, tetapi juga diperkenalkan dan diterapkan melalui strategi komunikasi berbasis komunitas. Pendekatan tersebut memastikan masyarakat memahami pentingnya air bersih serta mau mengadopsi teknologi yang ditawarkan.
“Keberhasilan program air bersih tidak hanya bergantung pada teknologi. Ia bergantung pada bagaimana komunitas membangun rasa percaya, mengubah kebiasaan, dan bersama-sama memelihara fasilitas. Ini pekerjaan komunikasi,” ujarnya.
Sains dan Teknologi sebagai Pengungkit Pembangunan di Negara Berkembang
Selain membahas aspek komunikasi, Dr. Bandopadhyay menyoroti bagaimana sains dan teknologi memberikan dampak nyata bagi negara-negara berkembang, termasuk India. CSIR, lembaga riset terbesar di India dengan 37 laboratorium, menjadi penggerak utama inovasi yang menjangkau berbagai sektor masyarakat—mulai dari kesehatan, pertanian, energi, hingga pemberdayaan ekonomi lokal.
Menurutnya, kolaborasi regional berbasis sains tidak akan berjalan tanpa komunikasi lintas institusi yang kuat. Diplomasi ilmiah—perpaduan antara dialog, pertukaran informasi, dan kerja sama teknologi—adalah instrumen penting dalam menghadapi tantangan pembangunan kontemporer.
“Di banyak negara berkembang, sains bukan hanya urusan laboratorium. Ia adalah strategi pembangunan. Dan agar strategi ini inklusif, diperlukan tata kelola komunikasi yang jujur, transparan, dan berbasis pada kepentingan publik,” ungkapnya.
Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UM, dalam sambutannya, menyatakan bahwa kuliah tamu ini sengaja dirancang untuk memperkuat komitmen Prodi terhadap capaian SDGs, terutama SDG 11 yang berfokus pada pembangunan kota dan komunitas berkelanjutan serta SDG 16 yang menekankan pada institusi yang kuat, inklusif, dan berkeadilan.
Dalam konteks SDG 11, materi Dr. Bandopadhyay memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai bagaimana teknologi air bersih, pengelolaan pengetahuan lokal, serta produk berbasis keanekaragaman hayati dapat membantu menciptakan komunitas yang lebih sehat, aman, dan resilient. Sementara untuk SDG 16, ia menekankan pentingnya komunikasi yang transparan, literasi sains, serta kolaborasi institusional dalam membangun tata kelola yang baik.
Dosen Ilmu Komunikasi UM yang hadir dalam acara tersebut menilai bahwa paparan Dr. Bandopadhyay relevan dengan arah kurikulum Prodi yang menempatkan risk communication, environmental communication, dan komunikasi kebijakan publik sebagai kompetensi strategis.
Resonansi bagi Mahasiswa Komunikasi
Kuliah tamu ini memberikan perspektif baru bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi bahwa pembangunan berkelanjutan bukan hanya isu teknis, tetapi persoalan sosial yang menuntut keahlian komunikasi yang kuat. Mahasiswa diajak memahami bagaimana narasi, partisipasi, dan komunikasi interpersonal dapat membantu mengatasi hambatan implementasi teknologi di masyarakat.
Salah satu mahasiswa, Afgian Gala-mengaku semakin memahami peran komunikator dalam program pembangunan.
“Saya baru menyadari bahwa inovasi teknologi tidak cukup tanpa strategi komunikasi. Kita sebagai calon komunikator punya peran untuk menjembatani banyak pihak,” ujarnya.
Harapan untuk Kerja Sama Akademik Internasional
Di akhir sesi, Dr. Bandopadhyay menyampaikan harapannya agar kunjungan ke UM membuka peluang kerja sama akademik, khususnya dalam bidang komunikasi sains dan penelitian interdisipliner.
“Saya melihat antusiasme besar dari mahasiswa dan dosen. Saya percaya kita dapat menjalin kolaborasi untuk riset-riset yang mendukung pembangunan berkelanjutan, baik di Indonesia maupun di kawasan Asia,” ujarnya.
Prodi Ilmu Komunikasi UM menegaskan bahwa forum kuliah tamu internasional seperti ini akan terus diperluas untuk memperkuat wawasan global mahasiswa dan dosen, serta memastikan peran aktif institusi pendidikan dalam mendukung agenda SDGs secara substantif. Dengan hadirnya Dr. Amitava Bandopadhyay, kuliah tamu ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran, tetapi juga membuka dialog yang lebih luas tentang peran komunikasi dalam menjawab tantangan pembangunan, memperkuat institusi, serta membangun komunitas yang lebih berkelanjutan—baik di tingkat lokal maupun global.
