Kehidupan dengan segala perbedaan baik dalam skala mikro, mezo, bahkan makro dalam suatu bangsa, ibarat “pelangi”, “salad”, begitu juga bangsa yang seharusnya. Keragaman menyebabkan kehidupan semakin inklusif, adanya kohesi nasional, saling memiliki, dan saling meng- untungkan antara mayoritas dan minoritas. Budaya tradi- sional tidak ketinggalan jaman, perbedaan agama ternyata dapat disatukan dengan nilai-nilai tradisional. Kalau terda- pat pandangan bahwa kebudayaan tradisional akan meng- halangi kemajuan jaman, tentu tidak selalu benar. Dalam kenyataannya, justru kearifan lokal menyama braya sebagai kebudayaan tradisional masih relevan di sini.
Pelangi di Balik Gunung Batur, Bali menyoroti tiga bentuk atau rupa penerapan kehidupan menyama braya, yaitu kehi- dupan keagamaan (parahyangan), kemasyarakatan (pawong- an), dan yang terkait dengan alam semesta (palemahan). Ke- tiga hal tersebut merupakan inti dari keseimbangan hidup dalam rangka mencapai kesejahteraan yang dipedomani oleh masyarakat baik di Banjar Angansari khususnya, dan di Bali pada umumnya.