Indonesia sebagai negara dan bangsa bukan saja masalah historis, tetapi juga masalah sosiologis. Mencermati dinamika peristiwa sejarah juga meru- pakan dinamika sosial dimasa lalu. Karena itu, perlu dilihat secara genealogi yang diwarnai oleh dinamika, termasuk konflik baik yang bersifat laten maupun manifes. Melalui proses hegemoni dari para aktor atau agen (foun- ding fathers) yang mempunyai modal sosial berperan besar dalam proses habituasi menanamkan rasa kebangsaan sesuai dengan jiwa jamannya.
Pada awalnya nasionalisme Indonesia terkait dengan bagaimana bergerak bersama-sama untuk terbentuknya suatu bangsa (nation) dan negara (state), bahkan dengan revolusi fisik dan sosial. Namun bersamaan dengan bertambahnya usia negara, mulai ada tanda-tanda kemunduran hidup berbangsa dan bernegara yang ditandai dengan peristiwa-peristiwa yang bernuansa SARA. Begitu juga munculnya polarisasi bahkan distorsi berpikir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Semisal, senegara berbeda etnis bukan berarti sebangsa kalau bukan seagama, sebaliknya berbeda etnis kalau seagama adalah sebangsa. Kondisi semacam ini membahayakan masa depan bangsa dan negara sehingga buku ini mencoba bagaimana munculnya Indonesia sebagai bangsa dan negara berdasarkan beberapa teori sosiologi.